Harga Emas Menguat, Pasar Menanti Data Inflasi AS dan Arah Suku Bunga The Fed

Harga emas menguat pada perdagangan Senin (10/8/2026) setelah pasar mencermati pelemahan data tenaga kerja Amerika Serikat (AS), kenaikan harga minyak, imbal hasil Treasury, serta perubahan ekspektasi suku bunga Federal Reserve.

Mengutip Kitco, harga emas spot mencapai US$4.358,71 per troy ounce pada perdagangan sore AS atau naik 0,4%. Penguatan tersebut terjadi ketika pasar kembali meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September.

Data Tenaga Kerja AS Mengubah Ekspektasi Pasar

Data nonfarm payroll Juli 2026 menunjukkan penurunan 23.000 pekerjaan. Selain itu, AS merevisi data ketenagakerjaan pada bulan-bulan sebelumnya ke level yang lebih rendah. Kondisi tersebut sempat memangkas peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September dari 54,7% menjadi 44,4%.

Namun, pasar kemudian mengubah ekspektasinya. Pada Senin, peluang kenaikan suku bunga kembali meningkat menjadi 51,7%. Imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun juga naik 5 basis poin menjadi 5,244%, mendekati level penutupan tertinggi 31 Juli sebesar 5,253%.

Selanjutnya, pelaku pasar akan mencermati data Consumer Price Index (CPI) Juli pada Rabu (12/8), Producer Price Index (PPI) pada Kamis (13/8), dan penjualan ritel pada Jumat (14/8). Data tersebut akan memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed.

Ketegangan Selat Hormuz Menopang Permintaan Emas

Kenaikan harga minyak juga memengaruhi prospek emas karena situasi di Selat Hormuz kembali meningkatkan perhatian pasar. Sikap Iran yang masih mengajukan sejumlah tuntutan membuat pelaku pasar meragukan pemulihan arus kapal tanker melalui jalur strategis tersebut dalam waktu dekat.

Kondisi geopolitik itu dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan stabilitas ekonomi global. Karena itu, investor masih berpotensi meningkatkan kepemilikan emas sebagai aset safe haven.

Managing Partner Sprott Inc. sekaligus Senior Portfolio Manager dan Chief Investment Officer Sprott Asset Management Maria Smirnova menilai faktor makro dan struktural masih mendukung emas. Ia menyoroti kenaikan utang pemerintah, defisit fiskal, diversifikasi cadangan bank sentral dari dolar AS, serta fragmentasi geopolitik.

Analis Memproyeksikan Emas Kembali Menuju US$5.000

Pada Selasa (11/8), harga emas spot sempat menguat 0,74% ke US$4.420,80 per troy ounce pada pukul 08.48 WIB. Chief Investment Officer sekaligus Co-Founder Catalyst Funds dan Portfolio Manager Strategy Shares Gold Enhanced Yield ETF David Miller memperkirakan emas dapat kembali mencapai US$5.000 per troy ounce dalam dua hingga dua setengah tahun.

Miller menilai pembelian bank sentral, diversifikasi aset dari dolar AS, permintaan China, dan belanja defisit pemerintah AS dapat menopang harga emas dalam jangka panjang.

Sementara itu, Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit melihat tren teknikal emas masih bullish. Ia memproyeksikan harga menuju area resistance US$4.484 hingga US$4.592 selama indikator Stochastic belum menunjukkan pembalikan arah.

Pada pukul 18.29 WIB, harga emas spot kemudian melemah tipis 0,05% atau 1,4 poin menjadi US$4.386,6 per troy ounce.

 

Previous Post Next Post