Harga Emas Global Bertahan di Atas US$4.400 saat Pasar Menanti Data Inflasi AS
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Harga emas dunia bertahan di atas US$4.400 per troy ounce pada perdagangan Rabu, 12 Agustus 2026. Pasar masih menopang emas sebagai aset safe haven di tengah ketegangan Selat Hormuz, meskipun penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan ekspektasi suku bunga tinggi menahan laju kenaikan.
Mengutip data Kitco, harga emas spot pada perdagangan Selasa sore waktu AS mencapai US$4.412,50 per troy ounce atau menguat 0,56%. Pergerakan tersebut menunjukkan investor masih mencari perlindungan dari ketidakpastian geopolitik dan ekonomi.
Pada perdagangan Rabu pukul 14.32 WIB, harga emas spot kembali menguat 0,8% atau 34,8 poin ke US$4.401,3 per troy ounce.
Ketegangan Selat Hormuz Mendorong Investor Memburu Emas
Ketegangan di Selat Hormuz kembali memberikan dukungan terhadap harga emas. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang baru ditunjuk menyatakan Iran akan mempertahankan penutupan jalur perairan tersebut sampai Washington menerima persyaratan Teheran.
Presiden AS Donald Trump juga menambahkan tuntutan berupa kompensasi kepada Iran. Sebelumnya, Pakistan sempat meningkatkan harapan terhadap kemungkinan pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut. Namun, pasar belum memasukkan skenario pembukaan Selat Hormuz dalam waktu dekat ke dalam pergerakan harga.
Selain faktor geopolitik, data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah pada pekan sebelumnya turut mendukung emas karena aset tersebut sensitif terhadap perubahan suku bunga. Namun, kenaikan harga minyak dan tekanan inflasi membuat peluang Federal Reserve memangkas suku bunga pada September masih belum pasti.
Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun berada di sekitar 4,7%, sedangkan dolar AS menguat. Kondisi tersebut membuat investor tetap mempertahankan aset defensif, tetapi sekaligus membatasi potensi kenaikan emas.
Data Inflasi AS Menentukan Arah Harga Emas Berikutnya
Pelaku pasar kini menunggu data consumer price index (CPI) AS yang akan terbit pada Rabu, 12 Agustus 2026. Setelah itu, pasar akan mencermati producer price index (PPI) pada Kamis, 13 Agustus.
Kedua indikator tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve. Jika data menunjukkan tekanan inflasi yang lebih kuat, pasar berpotensi mempertahankan ekspektasi suku bunga tinggi sehingga memberikan tekanan terhadap emas.
Sebaliknya, pelemahan inflasi dapat memperkuat harapan pelonggaran kebijakan moneter dan memberikan ruang bagi harga emas untuk kembali menguat.
Investor China Mengalihkan Permintaan dari Perhiasan ke Emas Batangan
Perubahan pola konsumsi juga terlihat di China. China Gold Association mencatat total permintaan emas pada semester I/2026 tumbuh 1,2% secara tahunan.
Namun, permintaan emas perhiasan berdasarkan volume justru merosot 33,9%. Pada saat yang sama, permintaan emas batangan dan koin investasi melonjak 28,4%.
China Gold Association mengaitkan perubahan tersebut dengan tingginya harga emas dan penerapan kebijakan pajak emas baru. Konsumen mulai mengutamakan produk emas untuk investasi dibandingkan kebutuhan perhiasan.
Tingginya harga emas juga menekan konsumsi untuk kebutuhan industri karena kenaikan biaya bahan baku membuat penggunaan emas di sektor tersebut menurun.
