Harga Emas Dunia Tertekan, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Picu Tekanan Pasar

Harga emas dunia kembali berada dalam tekanan setelah pelaku pasar meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve. Penguatan dolar AS dan perubahan proyeksi kebijakan moneter membuat investor mulai mengurangi minat terhadap aset safe haven seperti emas.

Tekanan tersebut membawa harga emas turun ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun demikian, sejumlah analis menilai penurunan ini belum mengakhiri prospek positif emas dalam jangka panjang. Permintaan dari bank sentral berbagai negara masih berpotensi menjadi penopang harga logam mulia.

Di sisi lain, pelaku pasar terus mencermati perkembangan ekonomi Amerika Serikat. Data ekonomi yang tetap kuat membuat peluang kenaikan suku bunga kembali meningkat. Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi pasar emas.

Penguatan Dolar dan Sikap Hawkish The Fed Menekan Harga Emas

Harga emas dunia melemah setelah dolar Amerika Serikat menguat terhadap sejumlah mata uang utama. Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain sehingga permintaan ikut berkurang.

Selain itu, pasar juga merespons sikap Federal Reserve yang masih menunjukkan kecenderungan hawkish. Sejumlah lembaga keuangan global memperkirakan bank sentral Amerika Serikat masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga pada tahun ini.

Bank of America bahkan memperkirakan The Fed dapat menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali, masing-masing pada September, Oktober, dan Desember. Sementara itu, Deutsche Bank memproyeksikan dua kali kenaikan suku bunga, yaitu pada September dan Desember.

Ekspektasi tersebut membuat investor mulai mengalihkan dana ke aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Akibatnya, emas kehilangan sebagian daya tariknya karena tidak memberikan bunga maupun dividen.

Tekanan terhadap harga emas juga semakin besar setelah pasar menilai inflasi Amerika Serikat masih cukup tinggi. Kondisi tersebut membuka peluang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama.

Deutsche Bank Pangkas Proyeksi Harga Emas

Seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga, Deutsche Bank merevisi turun proyeksi harga emas untuk paruh kedua 2026.

Analis Deutsche Bank, Michael Hsueh, menilai perubahan ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve menjadi faktor utama yang mendorong koreksi harga emas.

“Repricing kebijakan The Fed bersama data ekonomi AS yang tetap kuat menjadi faktor utama yang menekan harga emas,” tulis Michael Hsueh dalam laporan risetnya.

Deutsche Bank kini memperkirakan harga emas rata-rata berada di kisaran US$4.300 per troy ounce pada kuartal III 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar US$4.850.

Untuk kuartal IV 2026, proyeksi harga emas juga dipangkas menjadi US$4.800 per troy ounce dari estimasi sebelumnya US$5.000.

Michael Hsueh juga mengingatkan adanya skenario risiko apabila Federal Reserve menaikkan suku bunga sebanyak tiga hingga empat kali. Dalam kondisi tersebut, harga emas berpotensi turun hingga mendekati US$3.800 per troy ounce.

Meski memangkas proyeksi, Deutsche Bank belum mengubah pandangan bahwa emas masih memiliki prospek jangka panjang yang positif.

Permintaan Bank Sentral Masih Menjadi Penopang

Di tengah tekanan harga, permintaan emas dari bank sentral berbagai negara masih memberikan dukungan bagi pasar.

Pembelian emas oleh bank sentral dinilai mampu mengurangi risiko penurunan harga yang lebih dalam. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Analis logam independen Tai Wong mengatakan tekanan terhadap emas memang cukup besar. Namun, ia menilai peluang terjadinya penurunan tajam masih relatif terbatas.

“Pembelian bank sentral masih memberikan dukungan sehingga kecil kemungkinan harga emas mengalami kejatuhan yang drastis,” ujar Tai Wong.

Meski demikian, Tai Wong memperkirakan harga emas berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi untuk sementara waktu. Pasar masih membutuhkan sentimen baru sebelum kembali membentuk tren kenaikan.

Selain itu, investor juga akan terus mencermati data inflasi, tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Seluruh indikator tersebut akan memengaruhi arah kebijakan The Fed pada pertemuan berikutnya.

Investor Diminta Mewaspadai Volatilitas Harga Emas

Pergerakan harga emas diperkirakan masih fluktuatif dalam beberapa bulan mendatang. Selama ekspektasi kenaikan suku bunga tetap tinggi, tekanan terhadap logam mulia masih berpotensi berlanjut.

Namun, kondisi tersebut juga dapat berubah apabila data ekonomi Amerika Serikat mulai melemah. Pelemahan ekonomi berpotensi mengurangi peluang kenaikan suku bunga sehingga kembali mendukung harga emas.

Bagi investor jangka panjang, koreksi harga sering dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk melakukan akumulasi secara bertahap. Strategi tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan mencoba menebak titik terendah pasar.

Sementara itu, investor jangka pendek disarankan memperhatikan perkembangan kebijakan moneter global. Perubahan kecil pada pernyataan pejabat Federal Reserve dapat memicu volatilitas harga emas dalam waktu singkat.

Dengan masih kuatnya pengaruh kebijakan The Fed terhadap pasar keuangan global, harga emas diperkirakan tetap bergerak dinamis sepanjang paruh kedua 2026. Investor pun perlu mencermati setiap perkembangan ekonomi agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih tepat.

Previous Post Next Post