Harga Emas Pulih ke US$4.347 Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Harga emas kembali menguat pada perdagangan Jumat, 11 September 2026, setelah pasar merespons data inflasi Amerika Serikat (AS). Namun, kenaikan harian tersebut belum mampu mengangkat kinerja emas sepanjang pekan karena investor masih mengantisipasi keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Mengutip Kitco pada Sabtu, 12 September 2026, harga emas spot naik 0,73% ke level US$4.347,10 per troy ounce. Pada periode yang sama, harga perak juga menguat 1,28% menjadi US$64,260 per troy ounce.
Meski mencatat pemulihan harian, emas masih melemah 1,7% sepanjang pekan. Pasar memberikan tekanan setelah investor semakin memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 15–16 September 2026.
Pasar Menaikkan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed berada di kisaran 85%–90% setelah AS merilis data inflasi Agustus 2026.
Inflasi AS mencapai 3,4% secara tahunan pada Agustus dan tidak berubah dari Juli. Sementara itu, inflasi inti mencapai 2,4%, sehingga masih berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.
Kondisi tersebut mempersempit ruang The Fed untuk mempertahankan tingkat suku bunga. Chief Investment Officer Northlight Asset Management Chris Zaccarelli menilai bank sentral AS menghadapi tekanan kuat untuk mengambil kebijakan lebih ketat.
Kenaikan Imbal Hasil Treasury Menekan Harga Emas
Pasar obligasi sempat memberikan tekanan besar terhadap emas setelah data inflasi keluar. Imbal hasil US Treasury 10 tahun sempat menyentuh 4,9915% sebelum kembali bergerak di sekitar 4,95%.
Imbal hasil Treasury 30 tahun bahkan menembus 5,42%, level tertinggi dalam 19 tahun. Kenaikan imbal hasil membuat investor menghadapi biaya peluang lebih besar ketika menyimpan emas karena aset tersebut tidak memberikan bunga.
Tekanan tersebut kemudian mereda pada perdagangan Jumat. Dolar AS melemah dari penguatan sebelumnya, sedangkan imbal hasil Treasury kembali turun dari level tertingginya. Kondisi itu membantu emas mengakhiri perdagangan dengan penguatan.
Investor Masih Melihat Peluang Beli Saat Harga Emas Turun
Director of Commodity Strategy TD Securities Ryan McKay memperkirakan emas masih menghadapi risiko penurunan menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed pada pekan berikutnya.
Namun, McKay menilai tekanan tersebut kemungkinan tidak berlangsung besar. Menurutnya, kebijakan The Fed yang hawkish dapat memicu aksi jual jangka pendek, tetapi sejumlah faktor fundamental masih menopang permintaan emas.
Kekhawatiran terhadap pelemahan dolar, pembelian emas oleh bank sentral, serta peningkatan akumulasi exchange traded fund (ETF) menjadi faktor yang menjaga prospek emas dalam jangka panjang. Karena itu, investor dapat melihat koreksi harga sebagai peluang untuk kembali membeli.
Sprott Masih Meragukan The Fed Akan Menaikkan Suku Bunga
Presiden Sprott Inc. Ryan McIntyre belum sepenuhnya yakin The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan 15–16 September. Ia menilai bank sentral masih memiliki alasan untuk mempertahankan kebijakan karena sebagian tekanan inflasi berasal dari kenaikan harga energi akibat perang dengan Iran.
Di sisi lain, pasar telah memperhitungkan kemungkinan kenaikan 25 basis poin dalam harga emas. McIntyre menilai keputusan The Fed nantinya hanya akan memberikan pengaruh terbatas terhadap arah emas dalam jangka panjang.
Ia juga melihat risiko peningkatan utang pemerintah AS tetap menjadi persoalan besar. Kondisi tersebut berpotensi menjaga daya tarik emas meskipun kebijakan The Fed dapat mempercepat atau memperlambat pergerakan harga dalam jangka pendek.
