Risiko Perang Meningkat, Harga Emas di Pasar Spot Berfluktuasi
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Ketegangan AS-Iran Mengguncang Pasar dan Membuat Harga Emas Berfluktuasi

Pasar Global Mendorong Harga Emas Berayun Setelah Penurunan Tajam
Harga emas di pasar spot bergerak fluktuatif setelah sebelumnya mencatat penurunan mingguan terbesar dalam lebih dari 40 tahun. Pada Senin, 23 Maret 2026, harga emas naik tipis 0,3 persen ke level US$4.506,57 per ounce pada pukul 06.16 waktu Singapura, setelah sempat melemah di awal perdagangan.
Pergerakan ini mencerminkan ketidakpastian pasar global yang terus meningkat. Investor merespons dinamika geopolitik dengan hati-hati, terutama setelah tekanan besar yang terjadi pada pekan sebelumnya.
Lonjakan Harga Minyak Meningkatkan Risiko Inflasi dan Menekan Emas
Kenaikan tajam harga minyak mentah turut memengaruhi pergerakan emas. Sejak akhir Februari 2026, harga minyak acuan global Brent melonjak lebih dari 50 persen akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Lonjakan ini memicu kekhawatiran inflasi global. Di sisi lain, kondisi tersebut juga menurunkan peluang bank sentral, termasuk Federal Reserve AS, untuk segera memangkas suku bunga. Situasi ini menjadi tekanan tambahan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Ancaman Penutupan Selat Hormuz Memperparah Ketegangan Geopolitik
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu dua hari. Jika tidak, AS mengancam akan menyerang fasilitas pembangkit listrik Iran.
Sebagai respons, Iran menyatakan kesiapan untuk menutup jalur strategis tersebut dan menargetkan infrastruktur penting jika serangan terjadi. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global, sehingga penutupannya berpotensi mengganggu pasokan energi dunia.
Analis Menilai Eskalasi Konflik Berisiko Memicu Guncangan Pasar Lebih Dalam
Sejumlah analis melihat situasi ini berpotensi memperburuk kondisi pasar keuangan global. Peneliti pasar minyak sekaligus pendiri Commodity Context Corp., Rory Johnston, menilai ultimatum tersebut justru mempersempit ruang negosiasi.
Ia menilai kecil kemungkinan Iran akan memenuhi tuntutan dalam waktu singkat di bawah tekanan ancaman militer. Selain itu, Iran dinilai memiliki kemampuan untuk merespons eskalasi secara seimbang, sehingga risiko konflik berkepanjangan semakin besar.
Ketegangan ini tidak hanya memengaruhi pasar komoditas, tetapi juga merembet ke pasar saham dan obligasi. Akibatnya, pelaku pasar terus mencermati perkembangan geopolitik sebagai faktor utama yang menggerakkan harga emas dalam jangka pendek.
