Harga Masih Tinggi, Ini Negara yang Doyan Borong Emas Bank Sentral

Bank Sentral Dunia Terus Borong Emas Saat Harga Global Masih Tinggi

Karyawati menunjukkan emas PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) di salah satu gallery penjualan emas di Jakarta, Kamis (4/5). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Harga emas global bertahan kuat di tengah tekanan geopolitik dan pelemahan dolar

Harga emas dunia tetap bergerak positif sepanjang pekan kedua April 2026. Pelemahan dolar Amerika Serikat serta kekhawatiran investor terhadap rapuhnya gencatan senjata antara Washington dan Teheran menjaga minat terhadap aset safe haven tetap tinggi. Data Refinitiv menunjukkan harga emas ditutup di level US$4.747,49 per troy ons pada Jumat, 10 April 2026. Meski terkoreksi tipis 0,34% secara harian, harga emas masih mencatat kenaikan mingguan sebesar 1,54%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen global masih mendukung harga emas, meskipun terjadi fluktuasi jangka pendek. Di tengah situasi tersebut, aktivitas bank sentral dalam mengelola cadangan emas juga ikut memengaruhi arah pasar.

Polandia memimpin aksi pembelian emas bank sentral dunia

Laporan World Gold Council edisi April 2026 mengungkapkan perubahan pola pembelian emas oleh bank sentral. Hingga Februari 2026, sejumlah negara tercatat aktif menambah cadangan emas, sementara sebagian lainnya mulai mengurangi kepemilikan.

Polandia muncul sebagai pembeli terbesar dengan tambahan 20,2 ton sepanjang tahun berjalan. Akumulasi ini mendorong total cadangan emas negara tersebut menjadi 570,4 ton dan menempatkannya di peringkat ke-13 dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, Polandia secara konsisten meningkatkan kepemilikan emas untuk merespons risiko geopolitik di Eropa Timur serta ketidakpastian ekonomi global.

Negara Asia Tengah dan Asia ikut menambah cadangan emas

Selain Polandia, Uzbekistan menambah 7,8 ton emas sehingga total cadangannya mencapai 406,8 ton. Kazakhstan juga meningkatkan kepemilikan sebesar 7,7 ton menjadi 347,6 ton. Kedua negara ini memanfaatkan produksi emas domestik untuk memperkuat cadangan tanpa terlalu bergantung pada pasar global.

Sementara itu, kawasan Asia tetap menunjukkan aktivitas pembelian. Malaysia menambah 1,6 ton sehingga total cadangannya menjadi 43,9 ton. China juga meningkatkan cadangan sebesar 0,9 ton menjadi 2.308,5 ton, menjadikannya pemilik emas terbesar ketujuh di dunia. Meskipun laju pembelian melambat, langkah China tetap menjadi perhatian pasar karena pengaruhnya yang besar terhadap permintaan global.

Turki dan Rusia mengurangi cadangan emas di tengah dinamika pasar

Di sisi lain, beberapa negara justru mengurangi cadangan emasnya. Turki mencatat penurunan terbesar dengan melepas 8,1 ton, meskipun total cadangannya masih tinggi di level 595 ton dan menempati posisi ke-12 dunia. Perhitungan ini mengacu pada metodologi World Gold Council yang menyesuaikan cadangan resmi dengan instrumen sektor perbankan.

Rusia juga mengurangi kepemilikan sebesar 6,2 ton pada awal tahun ini. Meski demikian, total cadangan emas Rusia tetap mencapai 2.311 ton dan menempatkannya di posisi keenam dunia. Penurunan ini tidak mengubah status Rusia sebagai salah satu pemilik emas terbesar secara global.

Indonesia mempertahankan cadangan emas di tengah dominasi negara besar

Indonesia belum mencatat perubahan signifikan dalam cadangan emasnya sepanjang 2026. Total cadangan tetap berada di kisaran 87 ton dan menempatkan Indonesia di peringkat ke-44 dunia. Angka ini masih tertinggal dari Thailand yang memiliki 234,5 ton dan Singapura dengan 193,8 ton.

Kontribusi emas terhadap total cadangan devisa Indonesia juga relatif kecil, sekitar 9,6%. Kondisi ini berbeda dengan sejumlah negara yang lebih agresif meningkatkan porsi emas sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian global.

Negara Barat masih mendominasi kepemilikan emas global

Amerika Serikat tetap menjadi pemilik emas terbesar dunia dengan cadangan mencapai 8.133,5 ton. Posisi ini diikuti oleh Jerman dengan 3.350,3 ton, kemudian IMF dengan 2.814 ton, Italia 2.451,8 ton, dan Prancis 2.437 ton.

Dominasi negara-negara Barat ini terbentuk dari akumulasi panjang sejak era sistem moneter lama. Oleh karena itu, perubahan kebijakan dari negara-negara tersebut masih memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan harga emas global.

Pergerakan bank sentral membentuk arah pasar emas global

Kombinasi aksi beli dari Polandia dan negara Asia Tengah serta aksi jual dari Turki dan Rusia menciptakan dinamika baru di pasar emas. Permintaan yang tetap kuat dari beberapa negara menopang harga, sementara peningkatan suplai dari penjualan menahan kenaikan lebih lanjut.

Dengan kepemilikan emas yang masih terkonsentrasi pada negara besar, arah harga emas global menjadi sangat sensitif terhadap keputusan bank sentral utama. Oleh sebab itu, pasar akan terus memantau strategi cadangan emas sebagai indikator penting pergerakan harga ke depan.

Previous Post Next Post