Harga Emas Dunia Bangkit Usai Sempat Tertekan, Inflasi AS Sesuai Ekspektasi Redakan Kekhawatiran Pasar

emasnaik.com – Harga emas dunia kembali mencatat penguatan setelah sempat tertekan pada awal perdagangan. Kenaikan tersebut terjadi setelah Amerika Serikat merilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang sesuai dengan perkiraan pasar. Kondisi ini membuat kekhawatiran terhadap kebijakan moneter agresif dari Federal Reserve (The Fed) mulai mereda.

Sentimen tersebut langsung memengaruhi pergerakan berbagai instrumen keuangan. Dolar Amerika Serikat melemah, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury ikut menurun. Situasi ini mendorong investor kembali memburu emas sebagai aset lindung nilai sehingga harganya berbalik naik.

Harga Emas Berbalik Naik Setelah Sempat Turun

Pada perdagangan Kamis atau Jumat waktu Jakarta, harga emas di pasar spot naik 0,7 persen menjadi US$4.029,09 per ons. Sebelumnya, logam mulia itu sempat melemah sekitar 1 persen pada awal sesi perdagangan.

Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat juga menguat 0,9 persen hingga mencapai US$4.045,20 per ons. Pergerakan tersebut menunjukkan minat investor kembali meningkat setelah memperoleh kepastian dari data ekonomi terbaru Amerika Serikat.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan data inflasi PCE yang sesuai dengan ekspektasi membuat pasar bergerak lebih tenang.

“Data inflasi PCE yang sesuai perkiraan membuat pergerakan harga emas relatif stabil,” ujar David Meger.

Ia menilai pelaku pasar masih mempertimbangkan kemungkinan kebijakan suku bunga The Fed berikutnya. Namun, data yang tidak memberikan kejutan besar berhasil mengurangi tekanan terhadap harga emas.

Data inflasi PCE tahunan Amerika Serikat pada Mei 2026 tercatat sebesar 4,1 persen. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak April 2023. Meski demikian, pasar menilai kenaikan tersebut masih sesuai dengan proyeksi sebelumnya sehingga tidak langsung memicu kekhawatiran baru terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat.

Pelemahan Dolar AS Beri Dukungan Tambahan

Selain data inflasi, pelemahan dolar Amerika Serikat turut menjadi faktor penting yang menopang kenaikan harga emas. Ketika nilai dolar turun, emas menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi tersebut biasanya meningkatkan permintaan terhadap logam mulia.

Di saat yang sama, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga meningkatkan daya tarik emas. Investor tidak memperoleh bunga dari kepemilikan emas. Oleh karena itu, ketika imbal hasil obligasi turun, biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah.

Gabungan kedua faktor tersebut akhirnya mendorong investor kembali masuk ke pasar emas setelah sebelumnya melakukan aksi jual pada awal perdagangan.

Pergerakan ini sekaligus menunjukkan bahwa sentimen pasar masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan data ekonomi Amerika Serikat, terutama yang berkaitan dengan inflasi dan arah kebijakan Federal Reserve.

Investor Masih Menunggu Langkah The Fed

Meski harga emas kembali menguat, pelaku pasar belum sepenuhnya menghilangkan kewaspadaan. Investor masih menunggu sinyal berikutnya dari Federal Reserve mengenai arah suku bunga acuan.

Selama beberapa bulan terakhir, kebijakan bank sentral Amerika Serikat menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan emas global. Setiap data inflasi maupun indikator ekonomi lainnya selalu mendapat perhatian besar karena dapat memengaruhi keputusan The Fed.

Apabila tekanan inflasi kembali meningkat di atas ekspektasi, peluang kenaikan suku bunga masih tetap terbuka. Sebaliknya, jika inflasi terus bergerak sesuai proyeksi atau melambat, ruang bagi The Fed untuk mengurangi tekanan kebijakan moneter akan semakin besar.

Situasi tersebut membuat pasar emas diperkirakan masih bergerak dinamis dalam beberapa waktu ke depan. Investor akan terus mencermati setiap rilis data ekonomi sebelum mengambil keputusan investasi berikutnya.

David Meger juga menegaskan bahwa pasar masih memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed. Namun, data inflasi terbaru tidak memberikan kejutan yang cukup besar untuk memicu aksi jual lanjutan pada emas. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa stabilitas data ekonomi menjadi salah satu faktor utama yang menjaga optimisme pelaku pasar terhadap logam mulia.

Dengan kondisi tersebut, harga emas berhasil mengakhiri tekanan yang sempat terjadi pada awal perdagangan. Pelemahan dolar AS, turunnya imbal hasil Treasury, serta data inflasi yang sesuai perkiraan berhasil mengembalikan minat investor terhadap aset safe haven. Pasar kini menantikan rangkaian data ekonomi berikutnya sebagai petunjuk arah kebijakan Federal Reserve yang akan menjadi penentu tren harga emas selanjutnya.

Previous Post Next Post