Kesempatan Masuk Saat Harga Emas Ambrol 12% ke Level US$4.608 per Troy Ounce

Harga Emas Ambles 12 Persen ke US$4.608 per Troy Ounce pada Maret 2026

Alat berat di lokasi tambang emas Pani milik PT Merdeka Gold Resources Tbk./merdekagoldresources.com

Harga emas global mencatat penurunan tajam sepanjang Maret 2026. Berdasarkan data World Gold Council, nilai logam mulia ini merosot hingga 12 persen dan berada di level US$4.608 per troy ounce. Penurunan tersebut menjadi koreksi terdalam sejak Juni 2013.

Meski tekanan terjadi dalam jangka pendek, kinerja tahunan emas masih menunjukkan tren positif. Kondisi ini membuat pasar tetap memperhatikan potensi pemulihan harga di tengah volatilitas yang berlangsung.

Arus Keluar Dana ETF dan Aksi Jual Global Menekan Harga Emas

Penurunan harga emas tidak terjadi tanpa sebab. Laporan World Gold Council berjudul Anatomi Penurunan Harga Emas mengungkapkan bahwa tekanan dipicu oleh kombinasi faktor, mulai dari momentum negatif hingga aksi jual besar di pasar global.

Arus keluar dana dari ETF emas global menjadi pemicu utama dengan nilai mencapai US$12 miliar atau setara 84 ton emas sepanjang Maret 2026. Selain itu, investor di bursa berjangka COMEX juga melakukan aksi lepas posisi yang semakin memperdalam koreksi harga.

Amerika Utara mencatat kontribusi terbesar dalam arus keluar dana, diikuti oleh Eropa dengan nilai yang lebih kecil. Pergerakan ini menunjukkan perubahan sentimen investor di kawasan Barat yang cenderung melepas aset emas dalam periode tersebut.

Investor Asia Memanfaatkan Penurunan Harga untuk Akumulasi

Di tengah tekanan global, investor di Asia justru mengambil langkah berbeda. Mereka memanfaatkan penurunan harga emas sebagai peluang untuk melakukan pembelian.

Arus dana yang masuk ke kawasan Asia tercatat mencapai US$1,9 miliar. Meskipun jumlah ini belum mampu menutup arus keluar dari wilayah lain, langkah tersebut mencerminkan minat beli yang tetap kuat di pasar Asia.

Fenomena ini sekaligus menunjukkan adanya perbedaan strategi antara investor Barat dan Asia dalam merespons kondisi pasar emas.

Faktor Dolar AS dan Imbal Hasil Obligasi Turut Membebani Harga

Selain faktor arus dana, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi turut memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas. Kondisi ini mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Di sisi lain, World Gold Council menilai volatilitas yang terjadi selama Maret mencerminkan sensitivitas tinggi harga emas terhadap perubahan arus modal global. Pergeseran ekspektasi kebijakan moneter juga ikut memengaruhi pergerakan mata uang dan imbal hasil, yang pada akhirnya berdampak pada harga emas.

Previous Post Next Post