Pesta Pora Lagi! Harga Emas Tahu-Tahu Sudah Tembus US

Harga Emas Melonjak Tembus US$5.000 dan Masuki Area Konsolidasi

emas gold

Emas dan Perak Stabil Saat Investor Fokus pada Geopolitik dan Data Pekerjaan AS

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas dan perak kini mulai stabil setelah mengalami penurunan tajam beberapa hari terakhir. Logam mulia ini berada di area konsolidasi, di mana pergerakannya relatif terbatas karena investor menyoroti perkembangan geopolitik dan laporan lapangan kerja Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Rabu (4/2/2026), harga emas dunia naik 0,33% ke level US$4.954,79 per troy ons, sempat mencapai US$5.092,05 per troy ons sebelum kembali turun ke level psikologis US$4.900 per troy ons.

Pada perdagangan Kamis (5/2/2026) hingga pukul 06.44 WIB, harga emas dunia di pasar spot menguat 1,09% di posisi US$5.016,67 per troy ons. Pergerakan ini memperpanjang tren positif emas yang naik 6,4% selama dua hari terakhir. Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities, mengatakan harga emas mengonsolidasikan kenaikan baru-baru ini dengan resistensi di kisaran US$5.050-US$5.100 per troy ons.

Fluktuasi Emas Dipengaruhi Ketegangan Geopolitik dan Ekspektasi Suku Bunga

Harga emas sempat anjlok pada akhir Januari dan awal Februari setelah mencetak rekor tertinggi US$5.594,82 per troy ons pada 29 Januari, tetapi tetap menguat lebih dari 16% sepanjang tahun. Analis Marex, Edward Meir, menilai emas kemungkinan berada di awal kisaran konsolidasi dan diperdagangkan mendatar beberapa minggu mendatang. Fokus investor kini tertuju pada pembicaraan Iran-AS di Oman serta ketegangan yang muncul setelah militer AS menembak jatuh drone Iran di Laut Arab.

Pertumbuhan lapangan kerja swasta AS juga di bawah ekspektasi, dengan data ADP menunjukkan tambahan 22.000 pekerjaan pada Januari dibanding perkiraan 48.000. Presiden AS Donald Trump menandatangani RUU pengeluaran untuk mengakhiri penutupan sebagian pemerintah, meski belum ada jadwal pasti rilis data nonfarm payrolls. Kondisi ini mendorong ekspektasi investor terhadap minimal dua penurunan suku bunga pada 2026, yang membuat emas, sebagai aset tanpa imbal hasil, tetap diminati.

Bank Sentral dan ETF Dorong Permintaan Emas Naik

Goldman Sachs memproyeksikan harga emas berisiko naik hingga US$5.400 per troy ons pada Desember 2026, didorong oleh pembelian bank sentral dan arus masuk ETF. Permintaan sektor swasta yang tinggi juga berpotensi menambah kenaikan harga. Selain itu, pembicaraan geopolitik Trump-Xi Jinping serta pertemuan virtual Xi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin turut memengaruhi sentimen pasar logam mulia global.

Previous Post Next Post