Emas Kehilangan Mahkota, “Nyawanya” Dihabisi: Harga Ambruk Brutal
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Emas Ambruk Tajam, Investor Tercengang oleh Penurunan Brutal

Harga Emas Turun Lagi hingga US$4.462,49 per Troy Ons
Pasar emas kembali mengalami tekanan tajam pada Senin, 23 Maret 2026. Mengacu data Refinitiv pukul 06.59 WIB, harga emas diperdagangkan di US$4.462,49 per troy ons atau turun 0,56%. Penurunan ini memperpanjang tren negatif emas yang sebelumnya mencatat pelemahan 3,32% pada Jumat, 20 Maret 2026, dan ambruk 13,43% selama delapan hari berturut-turut.
Emas Kehilangan Status Safe Haven akibat Faktor Makro
Pergerakan emas yang cepat mencerminkan pergeseran sentimen pasar dari pengaruh geopolitik menuju faktor makroekonomi. Penguatan dolar AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga kini mendominasi pasar, sehingga emas yang biasanya menjadi aset safe haven justru bergerak seperti aset berisiko, turun seiring meningkatnya volatilitas saham.
Penguatan Dolar dan Minyak Tekan Harga Emas
Kenaikan harga minyak mendorong permintaan global terhadap dolar AS, sehingga melemahkan daya tarik emas. Sinyal hawkish dari Jerome Powell di The Federal Reserve memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi, menekan harga emas lebih lanjut. Investor bereaksi cepat terhadap perubahan ekspektasi ini, sehingga memicu aksi jual masif.
Bank Sentral Dunia Tetap Mendukung Emas
Meski harga menurun, fundamental jangka panjang emas tetap kuat karena pembelian berkelanjutan oleh bank sentral. Bank Sentral China (PBOC) mencatat akumulasi emas selama 16 bulan berturut-turut, dengan cadangan mencapai 74,22 juta troy ounce senilai hampir US$387 miliar. Langkah ini menjadi dasar struktural yang menahan tekanan di pasar.
Risiko Geopolitik Memperparah Volatilitas Pasokan Energi
Ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap Iran menambah risiko pasokan energi global. Iran memperingatkan akan menutup Selat Hormuz jika ancaman tersebut diterapkan, sehingga risiko gangguan produksi energi dan infrastruktur meningkat. Potensi eskalasi konflik memperkuat tekanan pada harga emas dan perak, karena pasar merespons risiko yield jangka panjang yang meningkat.
