Harga Emas Tiba-Tiba Ganas, Pagi Ini Sudah Melonjak 2% ke US$4.800
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Harga Emas Melonjak Tajam dan Kembali Tembus US$4.800 per Troy Ons pada 8 April 2026

Lonjakan Harga Emas Mengakhiri Tren Penurunan dan Mendorong Level Baru
Harga emas dunia menunjukkan lonjakan signifikan pada awal perdagangan Rabu, 8 April 2026. Setelah sempat melemah dalam dua hari sebelumnya, harga emas berhasil bangkit dan menembus kembali level psikologis US$4.800 per troy ons.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas ditutup di posisi US$4.702,50 per troy ons pada Selasa, 7 April 2026 atau naik 1,2 persen. Kenaikan ini sekaligus mengakhiri tren penurunan sebesar 2,3 persen yang terjadi dalam dua hari sebelumnya.
Momentum positif tersebut berlanjut pada perdagangan pagi hari berikutnya. Pada pukul 06.26 WIB, harga emas melonjak 2,3 persen hingga menyentuh US$4.809,65 per troy ons. Pencapaian ini menjadi yang pertama sejak 18 Maret 2026.
Pelemahan Dolar AS Mendorong Penguatan Harga Emas Global
Penguatan harga emas terjadi seiring dengan melemahnya dolar Amerika Serikat. Indeks dolar tercatat turun ke level 99,86 setelah sebelumnya berada di kisaran 99,9.
Kondisi ini membuat emas menjadi lebih menarik bagi investor global. Ketika dolar melemah, harga emas cenderung menguat karena menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati tenggat waktu kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang dinilai berpotensi memengaruhi arah pasar. Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menyebut pelaku pasar cenderung menunggu kepastian sebelum mengambil keputusan besar.
Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan Suku Bunga Membentuk Arah Pasar
Ketegangan geopolitik, khususnya yang melibatkan Iran, turut memberikan sentimen terhadap pergerakan emas. Peningkatan konflik sepanjang hari memicu kekhawatiran pasar, meskipun belum ada tanda kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz.
Di tengah situasi tersebut, pelaku pasar mulai mengalihkan fokus ke kebijakan suku bunga bank sentral. Ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter dinilai akan lebih menentukan pergerakan harga emas ke depan.
Wyckoff menegaskan bahwa jika bank sentral menunda penurunan suku bunga, maka permintaan terhadap emas berpotensi menurun. Hal ini terjadi karena emas tidak memberikan imbal hasil sehingga kurang menarik dalam lingkungan suku bunga tinggi.
Kenaikan Harga Energi dan Data Ekonomi AS Menjadi Penentu Berikutnya
Lonjakan harga minyak akibat konflik turut meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi ini membatasi ruang bank sentral untuk menurunkan suku bunga, sehingga memengaruhi dinamika harga emas.
Selain itu, pelaku pasar menantikan rilis sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC), data Personal Consumption Expenditures (PCE), serta inflasi Consumer Price Index (CPI) akan menjadi indikator utama arah kebijakan suku bunga.
Data-data tersebut diyakini akan menentukan pergerakan emas dalam jangka pendek. Dalam kondisi ketidakpastian ini, emas tetap menjadi instrumen yang sensitif terhadap perubahan kebijakan global dan dinamika ekonomi.
