Harga Buyback Emas Antam Terpaut Rp509.000 dari Rekor ATH
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Harga Buyback Emas Antam Menjauh dari Rekor Tertinggi Setelah Koreksi Pasar
Harga Buyback Turun Tajam Selama Sepekan Usai Libur Lebaran
Harga buyback emas Antam terus bergerak menjauh dari rekor tertinggi sepanjang masa setelah mengalami tekanan selama periode libur Lebaran 2026. Penurunan ini mencerminkan perubahan sentimen pasar yang dipengaruhi dinamika global.
Berdasarkan data Logam Mulia, harga buyback emas Antam berada di level Rp2.480.000 pada Selasa, 24 Maret 2026. Dalam kurun waktu sepekan, nilai tersebut terkoreksi sebesar Rp268.000 sehingga memperlebar jarak dari posisi puncak sebelumnya.
Sebelumnya, harga buyback sempat mencetak rekor tertinggi di Rp2.989.000 pada 29 Januari 2026. Dengan kondisi terbaru, selisih antara harga saat ini dan rekor tersebut mencapai Rp509.000.
Pergerakan Harga Buyback Mengikuti Fluktuasi Emas Global
Pergerakan harga buyback emas Antam tidak terlepas dari dinamika harga emas global yang cenderung melemah. Penurunan harga di pasar internasional memberikan tekanan langsung terhadap harga domestik.
Pada perdagangan Selasa, 24 Maret 2026, harga emas di pasar spot tercatat turun 1,5% ke level US$4.340,80 per troy ounce. Meskipun sempat menguat di awal sesi, harga kemudian berbalik turun hingga 1,8% dalam perdagangan yang fluktuatif.
Selain itu, pergerakan emas juga dipengaruhi hubungan dengan pasar saham dan harga energi. Kenaikan harga minyak serta volatilitas pasar keuangan ikut mempercepat perubahan arah harga emas.
Ketidakpastian Konflik Global Mendorong Investor Melepas Emas
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk tekanan terhadap harga emas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menunda rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari.
Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh pihak Iran yang menegaskan tidak adanya negosiasi. Di sisi lain, laporan menyebutkan kemungkinan keterlibatan sekutu AS di kawasan Teluk, sehingga meningkatkan ketidakpastian.
Situasi ini mendorong investor menjual sebagian kepemilikan emas untuk beralih ke aset lain yang dinilai lebih menguntungkan dalam jangka pendek.
Lonjakan Inflasi dan Suku Bunga Menekan Daya Tarik Emas
Kenaikan harga energi akibat konflik meningkatkan risiko inflasi global. Kondisi ini kemudian memicu ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve dan bank sentral lainnya.
Dalam situasi tersebut, emas kehilangan daya tarik karena tidak memberikan imbal hasil. Investor cenderung memilih instrumen lain yang menawarkan return lebih tinggi.
Tekanan ini terlihat dari tren penurunan harga emas yang berlangsung selama sembilan hari berturut-turut. Bahkan, sejak konflik memanas pada akhir Februari 2026, harga emas tercatat telah turun hampir 17%.
Investor Mengulang Pola Lama Saat Krisis untuk Menjaga Likuiditas
Pelaku pasar kembali menerapkan strategi lama dengan menjual aset yang masih menguntungkan untuk menutup kerugian di instrumen lain. Pola ini sebelumnya juga terjadi pada krisis global seperti tahun 2008 dan konflik Rusia-Ukraina 2022.
Analis menilai bahwa tekanan harga emas dalam beberapa minggu setelah krisis merupakan hal yang wajar. Investor biasanya memanfaatkan emas sebagai sumber likuiditas ketika pasar mengalami tekanan luas.
Di sisi lain, negara-negara yang aktif membeli emas juga menghadapi keterbatasan akibat meningkatnya biaya impor energi. Kondisi ini mengurangi kemampuan mereka untuk terus menambah cadangan emas dalam jumlah besar.
