Harga Emas Melemah, Pasar Cermati Beda Klaim AS dan Iran soal Konflik
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Harga Emas Melemah Saat Pasar Menilai Ulang Konflik AS dan Iran

Investor Menanggapi Pernyataan Berbeda dari AS dan Iran dengan Aksi Jual
Harga emas mengalami tekanan setelah pelaku pasar mencermati perbedaan pernyataan antara Amerika Serikat dan Iran terkait konflik di Timur Tengah. Ketidakpastian ini mendorong investor mengambil langkah cepat dengan menjual sebagian aset emas.
Pada perdagangan Selasa, 24 Maret 2026, harga emas di pasar spot tercatat turun 1,5% menjadi US$4.340,80 per troy ounce berdasarkan data Bloomberg. Sebelumnya, harga sempat menguat hampir 1% sebelum akhirnya berbalik melemah hingga 1,8% dalam sesi yang penuh volatilitas.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar merespons cepat setiap perkembangan geopolitik, namun tetap mempertimbangkan faktor lain yang lebih luas.
Penundaan Serangan AS Hanya Memberi Dampak Sementara
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengumumkan penundaan selama lima hari terhadap rencana serangan ke infrastruktur energi Iran. Ia juga menyebut adanya pembicaraan yang berlangsung produktif.
Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah oleh pihak Iran yang menegaskan tidak ada negosiasi dengan Washington. Selain itu, laporan The Wall Street Journal mengungkap potensi keterlibatan sekutu AS di kawasan Teluk.
Perbedaan informasi ini memperbesar ketidakpastian di pasar, sehingga investor memilih mengurangi eksposur terhadap emas dalam jangka pendek.
Lonjakan Harga Energi Mendorong Tekanan Inflasi Global
Konflik di Timur Tengah turut memicu kenaikan harga energi yang signifikan. Dampak ini meningkatkan risiko inflasi global dan mengubah preferensi investor terhadap aset.
Dalam kondisi tersebut, investor mulai mengalihkan dana ke instrumen lain yang dinilai lebih menguntungkan. Emas, yang tidak memberikan imbal hasil, menjadi salah satu aset yang dilepas untuk memenuhi kebutuhan likuiditas.
Tekanan ini semakin terlihat setelah harga emas juga mencatat penurunan hampir 2% pada sesi sebelumnya. Tren pelemahan bahkan telah berlangsung selama sembilan hari berturut-turut.
Investor Mengikuti Pola Lama Saat Krisis Global Terjadi
Kepala Riset Komoditas Global Standard Chartered, Suki Cooper, menyebut koreksi harga emas saat ini tergolong lebih dalam dari biasanya. Ia menilai tekanan harga selama beberapa minggu setelah krisis besar merupakan hal yang umum terjadi.
Fenomena serupa pernah terjadi saat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Kala itu, harga emas sempat melonjak sebagai aset aman sebelum akhirnya terkoreksi akibat lonjakan inflasi global.
Peter Kinsella dari Union Bancaire Privée juga menjelaskan bahwa investor sering menjual aset yang berkinerja baik untuk menutup kerugian di instrumen lain seperti saham atau obligasi. Pola ini pernah terlihat pada krisis keuangan global 2008.
Pasar Memperkirakan Tekanan Berlanjut di Tengah Risiko Inflasi dan Suku Bunga
Ketidakpastian konflik dan gangguan pada infrastruktur energi membuat risiko inflasi tetap tinggi. Kondisi ini memicu ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve dan bank sentral lainnya.
Kebijakan suku bunga tinggi biasanya memberikan tekanan tambahan pada harga emas. Sepanjang periode konflik sejak akhir Februari 2026, harga emas tercatat telah turun hampir 17%.
Di sisi lain, negara-negara yang aktif membeli emas juga menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya impor energi. Situasi ini membatasi kemampuan mereka untuk terus menambah cadangan emas dalam jumlah besar.
