Harga Emas dan Perak Makin Volatil, Ini Penyebabnya
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Harga Emas dan Perak Mengalami Volatilitas Tajam di Pasar Global

Reli Logam Mulia Berakhir dengan Penurunan Rekor
Jakarta, CNBC Indonesia – Reli harga emas dan perak yang memukau investor global berakhir pada Jumat lalu ketika kedua logam ini mencatat kerugian harian terbesar dalam lebih dari empat dekade. Kontrak berjangka perak, yang melonjak melewati rekor 45 tahun pada Oktober dan meningkat lebih dari dua kali lipat sejak saat itu, anjlok 31% pada perdagangan Jumat. Sementara kontrak berjangka emas yang seminggu sebelumnya menembus US$5.000 per troy ounce, turun 11% pada akhir pekan, menandai koreksi signifikan setelah reli bersejarah.
Penunjukan Kevin Warsh Picu Aksi Jual Spekulatif
Kepanikan pasar dipicu laporan bahwa Presiden AS Donald Trump akan menominasikan Kevin Warsh sebagai ketua Federal Reserve berikutnya. Investor menilai Warsh sebagai tokoh pro-inflasi dan penunjukannya memicu penguatan dolar serta ekspektasi kebijakan moneter lebih ketat. Berita tersebut memicu aksi jual besar-besaran, terutama karena harga logam sebelumnya melonjak jauh melampaui fundamental pasar.
Spekulasi dan Leverage Mempercepat Koreksi
Lonjakan harga emas dan perak menarik spekulan individu maupun lembaga untuk membeli dengan leverage tinggi melalui ETF dan kontrak derivatif. Pada hari Jumat, ETF perak yang menggunakan leverage anjlok 60%, hampir dua kali lipat kerugian kontrak berjangka perak. Para analis menekankan bahwa penjualan cepat ini kemungkinan diperparah oleh panggilan margin dan program perdagangan otomatis di Wall Street, yang memicu penurunan tajam dalam waktu singkat.
Dampak Volatilitas Meluas ke Pasar Tiongkok
Spekulasi ekstrem juga terjadi di Tiongkok, di mana harga perak lokal meningkat jauh di atas harga di pusat perdagangan global. Bank-bank China memperketat persyaratan margin dan menangguhkan perdagangan lima dana komoditas, termasuk perak berjangka UBS, untuk meredam risiko mania investasi. Upaya penyelundupan perak dari Hong Kong ke Tiongkok turut menunjukkan besarnya minat masyarakat terhadap logam mulia.
Prospek Logam Mulia Tetap Menjanjikan
Meskipun terjadi aksi jual, analis tetap optimis terhadap harga emas dan tembaga. Permintaan tembaga diproyeksikan meningkat tajam untuk kendaraan listrik, energi terbarukan, dan infrastruktur global. Sementara emas diperkirakan tetap diminati investor sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik. Deutsche Bank memprediksi harga emas mencapai US$6.000 tahun ini, didukung lonjakan permintaan investor global.
