Tren Investasi Alternatif: Saat Harga Emas Hingga Perak Melonjak Tajam dan Bitcoin Tertekan

Harga Emas dan Perak Melonjak Tajam Saat Tekanan Menekan Pasar Kripto di Awal 2026

Ilustrasi emas batangan atau logam mulia bertema Imlek Year of The Horse yang diluncurkan Antam./dok. Antam

Investor Global Memburu Logam Mulia di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Harga emas dan perak melonjak tajam pada awal tahun 2026 dan mengejutkan pelaku pasar global. Di Jakarta, Jumat (30/1/2026), lonjakan harga ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global. Bloomberg melaporkan emas mencatatkan reli terbaik sejak rekor tahun 1979, dengan harga menembus US$5.500 per troy ounce setelah melonjak 24% sepanjang Januari.

Kondisi ini terjadi ketika investor global menghadapi kekhawatiran terhadap penurunan nilai mata uang, independensi bank sentral Amerika Serikat, perang dagang, serta meningkatnya ketegangan geopolitik. Situasi tersebut mendorong pergeseran portofolio dari aset berisiko ke instrumen yang dinilai lebih aman.

Permintaan Spekulatif China Mendorong Reli Emas dan Perak

Permintaan spekulatif dari investor ritel China menjadi salah satu pendorong utama reli harga logam mulia. Premi harga emas dan perak di pasar domestik China yang berada di atas harga global ikut mengerek harga internasional. Bahkan, beberapa pengelola dana perak di China sempat menghentikan perdagangan dan menolak investor baru karena lonjakan premi dinilai tidak berkelanjutan.

Citigroup Inc. mencatat investor ritel China cenderung mengikuti tren jangka pendek, serupa dengan perilaku pelaku pasar derivatif di Amerika Serikat. Bank tersebut memproyeksikan harga perak masih berpotensi naik hingga US$150 per ons dalam tiga bulan ke depan, seiring berlanjutnya minat spekulatif.

Dinamika ETF Menguatkan Harga Emas Namun Membebani Perak

Arus dana ETF menunjukkan arah yang berbeda antara emas dan perak. Harga emas mendapat dorongan dari arus masuk dana ke ETF berbasis emas. Sebaliknya, ETF perak justru mencatat arus keluar signifikan. Data Bloomberg menunjukkan hampir 30 juta ons perak senilai lebih dari US$3 miliar keluar dari ETF sejak awal Januari.

Meski demikian, aktivitas perdagangan ETF perak tetap tinggi. iShares Silver Trust mencatat nilai transaksi hampir US$40 miliar dalam satu hari, mendekati volume perdagangan indeks saham utama dan melampaui sejumlah saham teknologi besar. Aktivitas opsi beli pada ETF emas dan perak juga mencetak rekor dan memperlihatkan tingginya ekspektasi lanjutan reli harga.

Tekanan Kripto Menegaskan Perbedaan Karakter Aset

Reli logam mulia berlangsung berlawanan arah dengan pasar kripto. Bitcoin turun di bawah US$85.000 untuk pertama kalinya dalam dua bulan dan sempat merosot hingga US$83.240. Tekanan juga menjalar ke Ether, Dogecoin, Cardano, dan Solana yang masing-masing melemah lebih dari 7%.

Data Coinglass mencatat lebih dari US$1 miliar posisi leverage terlikuidasi dalam 24 jam terakhir. Analis menilai penurunan ini kembali menegaskan kripto sebagai aset berisiko tinggi yang sensitif terhadap perubahan likuiditas global, sementara investor semakin mengandalkan emas dan perak sebagai alternatif investasi defensif.

Previous Post Next Post