Rem Reli Harga Emas Usai Trump Tahan Diri Tidak Lempar Tarif ke Eropa

Trump Menahan Tarif ke Eropa dan Meredam Reli Harga Emas Global

Logam mulia Emasku yang diproduksi oleh PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA)./dok. HRTA

Reli harga emas global mulai kehilangan tenaga setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menahan diri untuk tidak memberlakukan tarif terhadap negara-negara Eropa. Sikap tersebut meredakan ketegangan geopolitik yang sebelumnya mendorong lonjakan harga logam mulia ke rekor tertinggi sepanjang masa. Pasar pun merespons dengan aksi ambil untung setelah periode penguatan yang agresif.

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas spot tercatat naik 0,6 persen menjadi US$4.790,13 per ons pada perdagangan Kamis (22/1/2026) waktu New York. Namun, laju penguatan itu dinilai melambat dibandingkan reli tajam dalam beberapa bulan terakhir. Pada saat yang sama, harga perak justru terkoreksi 3,3 persen setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa.

Trump Menyampaikan Kerangka Kesepakatan Greenland di Davos

Penurunan tensi pasar terjadi setelah Trump mengumumkan telah tercapai “kerangka kesepakatan di masa depan” terkait rencana Amerika Serikat atas Greenland. Pernyataan tersebut disampaikan usai pertemuan Trump dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di sela World Economic Forum di Davos, Swiss.

Trump menegaskan Amerika Serikat tidak akan menggunakan kekuatan untuk memperoleh Greenland dan memilih jalur diplomasi melalui pembicaraan lanjutan. Ia juga menyebut pengembangan sistem pertahanan rudal Golden Dome sangat berkaitan dengan kepentingan strategis AS di wilayah Arktik. Sejumlah pejabat tinggi, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, ditunjuk untuk menangani negosiasi tersebut.

Pasar Logam Mulia Menyesuaikan Diri dengan Redanya Ketegangan

Meredanya isu geopolitik langsung memengaruhi pergerakan logam mulia lain. Harga platinum yang sempat menembus US$2.530 per ons untuk pertama kalinya memangkas seluruh kenaikannya dan diperdagangkan turun 0,9 persen. Kondisi ini menunjukkan pasar mulai menyeimbangkan ulang ekspektasi risiko global.

Meski demikian, analis menilai tren bullish emas belum sepenuhnya berakhir. Ahli strategi komoditas ING Groep NV Ewa Manthey menyebut emas hanya mengalami jeda sementara. Ia menilai ekspektasi penurunan suku bunga, ketidakpastian geopolitik yang masih berlanjut, serta pembelian agresif bank sentral tetap menjadi penopang utama harga emas ke depan.

Isu Independensi The Fed Ikut Menenangkan Pasar

Dari sisi kebijakan moneter, pasar juga memperoleh sentimen positif setelah Mahkamah Agung AS mengisyaratkan kehati-hatian terhadap upaya Trump memberhentikan Gubernur Federal Reserve Lisa Cook. Sikap tersebut dinilai membantu menjaga independensi The Fed dan meredakan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan suku bunga.

Dengan kombinasi faktor geopolitik dan moneter tersebut, pasar emas kini memasuki fase konsolidasi. Investor tetap mencermati perkembangan kebijakan Trump dan langkah bank sentral global sebagai penentu arah harga logam mulia selanjutnya.

Previous Post Next Post