Proyeksi Inflasi Januari 2026: Terkerek Emas, Tertolong Tiket Pesawat
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Inflasi Januari 2026 Diproyeksikan Naik karena Harga Emas Menguat
Bank Mandiri memprediksi inflasi tahunan terdorong efek basis rendah dan lonjakan emas
Laju inflasi Indonesia pada Januari 2026 diperkirakan meningkat secara tahunan, terutama akibat penguatan harga emas dan efek basis rendah dari kebijakan tahun sebelumnya. Proyeksi tersebut muncul menjelang pengumuman resmi Indeks Harga Konsumen (IHK) Januari 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin, 2 Februari 2026.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. Andry Asmoro memperkirakan inflasi Januari 2026 mencapai 3,77% secara tahunan atau year on year (YoY). Angka ini melonjak dibandingkan inflasi Desember 2025 yang tercatat 2,92% YoY serta jauh di atas inflasi Januari 2025 yang hanya sebesar 0,76% YoY. Kenaikan ini tidak terlepas dari efek basis rendah pada awal tahun lalu ketika pemerintah memberikan diskon tarif listrik sebesar 50%.
Normalisasi tiket pesawat menahan inflasi bulanan tetap rendah
Di sisi lain, tekanan inflasi secara bulanan diperkirakan relatif terbatas. Bank Mandiri memproyeksikan inflasi Januari 2026 secara bulanan atau month on month (MoM) hanya sebesar 0,06%. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan inflasi Desember 2025 yang mencapai 0,64% MoM.
Penurunan inflasi bulanan ini mencerminkan meredanya tekanan harga pascalibur akhir tahun. Normalisasi tarif angkutan udara menjadi salah satu faktor utama, seiring berakhirnya periode puncak permintaan perjalanan. Selain itu, harga pangan juga bergerak lebih stabil dibandingkan akhir tahun.
Harga pangan bergejolak diperkirakan berbalik deflasi
Kelompok harga bergejolak atau volatile food diperkirakan mencatat deflasi pada Januari 2026. Koreksi harga cabai rawit yang turun sekitar 27% MoM menjadi pendorong utama, disusul penurunan harga bawang merah sekitar 13% MoM. Komoditas pangan lain diproyeksikan hanya mengalami inflasi ringan, menandakan normalisasi pascakenaikan musiman di akhir tahun.
Sementara itu, kelompok administered prices juga diperkirakan mencatat deflasi ringan. Harga bahan bakar non-subsidi tercatat turun rata-rata 6%, sejalan dengan penurunan tarif angkutan udara yang diproyeksikan mencapai 10,6%.
Kenaikan harga emas mengerek inflasi inti tetap stabil secara tahunan
Di tengah pelemahan tekanan harga pangan dan transportasi, inflasi inti diperkirakan mendapat dorongan dari lonjakan harga emas. Tim Ekonom Bank Mandiri mencatat harga emas dalam rupiah naik sekitar 9% secara bulanan pada Januari 2026, lebih tinggi dibandingkan kenaikan Desember 2025 yang sebesar 4,7% MoM.
Meski demikian, secara tahunan inflasi inti diperkirakan relatif stabil di level 2,37% YoY, hampir tidak berubah dibandingkan posisi Desember 2025 sebesar 2,38% YoY. Stabilitas ini menunjukkan daya beli masyarakat masih terjaga di tengah ketidakpastian global yang berlanjut.
