Robert Kiyosaki Ramal Emas Nasik, Bisa Tembus US$35.000
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Robert Kiyosaki Memprediksi Harga Emas Bisa Tembus US$35.000 per Ons

Robert Kiyosaki Mengingatkan Potensi Gelembung Aset Global Pecah
Penulis buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, kembali mengingatkan potensi gejolak besar di pasar keuangan global. Ia menilai dunia sedang mendekati fase pecahnya gelembung aset terbesar dalam sejarah.
Melalui pernyataannya di platform X pada Jumat, 20 Maret 2026, Kiyosaki menegaskan bahwa krisis bukan lagi soal kemungkinan, melainkan waktu. Meski belum dapat memastikan pemicu utamanya, ia melihat tanda-tanda tekanan pasar semakin jelas.
Kiyosaki Memproyeksikan Lonjakan Harga Emas dan Aset Kripto
Dalam proyeksinya, Kiyosaki memperkirakan harga emas berpotensi melonjak hingga US$35.000 per ons dalam satu tahun setelah gelembung pasar pecah. Selain itu, ia juga memprediksi harga perak bisa mencapai US$200 per ons dalam periode yang sama.
Tak hanya logam mulia, Kiyosaki juga memproyeksikan kenaikan signifikan pada aset kripto. Ia memperkirakan Bitcoin dapat menyentuh US$750.000 per koin, sementara Ethereum berpotensi naik hingga US$95.000 setelah tekanan pasar mereda.
Kiyosaki Menekankan Pentingnya Likuiditas di Tengah Ketidakpastian
Di tengah proyeksi tersebut, Kiyosaki menyoroti pentingnya menjaga likuiditas. Ia menilai kepemilikan uang tunai tetap memiliki peran penting untuk memanfaatkan peluang saat harga aset turun drastis.
Pandangan ini sejalan dengan strategi investor legendaris Warren Buffett yang dikenal mempertahankan cadangan kas besar. Namun demikian, Kiyosaki memilih pendekatan berbeda dengan mengalokasikan dana ke aset riil dan alternatif seperti emas, perak, minyak, serta Bitcoin.
Kiyosaki Menilai Investor Harus Menyusun Strategi yang Matang
Lebih lanjut, Kiyosaki menegaskan bahwa investor perlu memiliki strategi yang jelas dalam menghadapi potensi krisis. Ia mengingatkan bahwa keputusan terburu-buru tanpa perencanaan justru dapat meningkatkan risiko kerugian.
Menurutnya, dalam kondisi pasar yang tidak menentu, langkah terbaik bagi sebagian investor bisa jadi adalah menahan diri hingga situasi lebih stabil.
Kiyosaki Mengaitkan Konflik Timur Tengah dengan Prospek Kenaikan Aset
Kiyosaki juga menyoroti ketegangan geopolitik di Timur Tengah sebagai faktor yang berpotensi mendorong kenaikan harga aset, terutama di sektor energi dan komoditas. Ia bahkan mengaitkan potensi gangguan di jalur strategis seperti Selat Hormuz dengan peluang kenaikan nilai investasi.
Meski demikian, Kiyosaki mengakui bahwa proyeksinya tidak selalu akurat. Ia tetap mendorong investor untuk melakukan analisis mandiri dan menyesuaikan keputusan investasi dengan kondisi masing-masing.
Secara konsisten, Kiyosaki telah lama mengingatkan risiko pelemahan dolar AS serta pentingnya diversifikasi ke aset riil. Pernyataan terbarunya kembali memicu perhatian pasar terhadap arah ekonomi global di tengah ketidakpastian yang terus berkembang.
