Prediksi Harga Emas jika Perang AS-Israel vs Iran Berakhir, Full Senyum atau Full Rungkat?

Pasar Mengerek Harga Emas Saat Sinyal Akhir Konflik AS-Israel dan Iran Muncul

Karyawati memperlihatkan kepingan emas Antam di Jakarta, Senin (30/6/2025). Bisnis/Arief Hermawan P

Harga emas global menunjukkan penguatan signifikan pada awal April 2026 seiring munculnya sinyal deeskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pernyataan Presiden Iran yang membuka peluang mengakhiri perang dengan syarat tertentu langsung memicu respons pasar, terutama pada komoditas logam mulia.

Mengacu laporan FX Empire, harga emas dunia (XAUUSD) bahkan berhasil menembus level di atas USD 4.600 per ons. Lonjakan ini terjadi ketika pelaku pasar mulai mengalihkan perhatian dari ketegangan geopolitik menuju potensi stabilisasi kondisi global.

Penurunan harga minyak mendorong minat investor ke emas

Pasar energi ikut merespons perkembangan geopolitik dengan penurunan harga minyak. Minyak mentah jenis WTI tercatat turun di bawah USD 101 per barel, sementara Brent melemah mendekati USD 104 per barel.

Penurunan ini kemudian mendorong perubahan preferensi investor. Saat tekanan dari harga energi mereda, investor mulai kembali melirik aset seperti emas sebagai instrumen lindung nilai. Pergerakan ini memperkuat tren kenaikan harga emas dalam waktu singkat.

Selain itu, ekspektasi berakhirnya konflik turut menciptakan sentimen positif yang mempercepat aliran dana ke pasar logam mulia. Dengan demikian, kombinasi faktor geopolitik dan energi menjadi pendorong utama kenaikan harga.

Penurunan imbal hasil obligasi AS memperkuat tren emas

Di sisi lain, pasar obligasi Amerika Serikat juga memberikan dorongan tambahan bagi harga emas. Imbal hasil obligasi tenor 2 tahun tercatat turun ke sekitar 3,78 persen, yang mencerminkan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter.

Pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, yang mengindikasikan tidak adanya kenaikan suku bunga hanya karena tekanan inflasi energi, turut memengaruhi sentimen pasar. Kondisi ini membuat emas semakin menarik karena biaya peluang memegang aset tersebut menjadi lebih rendah.

Sementara itu, inflasi di kawasan Euro naik dari 1,9 persen pada Februari menjadi 2,5 persen pada Maret. Namun, pelaku pasar saat ini lebih fokus pada perkembangan geopolitik dibandingkan data inflasi.

Analisis teknikal membuka peluang kenaikan lanjutan harga emas

Secara teknikal, harga emas saat ini menguji area resistance di kisaran USD 4.660 hingga USD 4.680 per ons. Jika mampu menembus level tersebut, harga berpotensi melanjutkan kenaikan ke rentang USD 4.860 hingga USD 4.880.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tren bullish masih memiliki ruang untuk berlanjut. Oleh karena itu, pelaku pasar terus mencermati pergerakan harga dalam jangka pendek untuk menentukan arah berikutnya.

Investor mengalihkan dana ke perak dan mendorong kenaikan harga

Selain emas, harga perak juga mengalami penguatan seiring perubahan aliran dana investor. Penurunan rasio emas terhadap perak ke level sekitar 62 menandakan meningkatnya minat terhadap logam tersebut.

Jika rasio ini terus menurun hingga di bawah 62, peluang menuju level 60 semakin terbuka. Secara teknikal, harga perak kini mencoba menembus resistance di kisaran USD 71 hingga USD 72.

Apabila mampu bertahan di atas USD 72, harga perak berpotensi melanjutkan kenaikan ke level USD 78 hingga USD 79. Indikator RSI yang masih moderat juga menunjukkan ruang penguatan lanjutan masih tersedia.

Previous Post Next Post