Biang Kerok Harga Emas Rontok
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Konflik Global dan Kebijakan Suku Bunga Seret Harga Emas Dunia Rontok Tajam

Perang AS dan Israel Melawan Iran Picu Gejolak Pasar Global
Harga emas dunia mengalami tekanan kuat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik tersebut memicu ketidakpastian global yang berdampak langsung pada pergerakan pasar keuangan.
Sepanjang sepekan terakhir, harga emas tercatat turun hingga 11 persen, yang sekaligus menjadi penurunan terbesar sejak 1983. Jika dihitung sejak awal konflik antara Amerika Serikat dan Iran, harga emas bahkan telah merosot lebih dari 14 persen.
Kenaikan Harga Energi Dorong Bank Sentral Tahan Kebijakan Ketat
Di tengah kondisi global yang tidak menentu, investor biasanya memanfaatkan emas sebagai aset lindung nilai. Namun, lonjakan harga energi justru mendorong bank sentral untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi guna mengantisipasi inflasi.
Kondisi ini kemudian mengubah arah pasar karena investor mulai mempertimbangkan instrumen lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Akibatnya, daya tarik emas sebagai aset aman pun ikut melemah.
Ekspektasi Suku Bunga Stabil Perkuat Minat ke Obligasi
Pelaku pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini sepanjang tahun. Berdasarkan data CME FedWatch, peluang penurunan suku bunga dinilai sangat kecil dalam waktu dekat.
Keputusan tersebut memperkuat daya tarik obligasi yang menawarkan imbal hasil lebih kompetitif. Sebaliknya, emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang diminati dalam situasi ini.
Penguatan Dolar AS Tekan Harga Emas Lebih Dalam
Selain faktor suku bunga, penguatan dolar AS turut memperparah penurunan harga emas. Dalam beberapa pekan terakhir, indeks dolar tercatat meningkat hampir 2 persen, sehingga membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor internasional.
Ekonom Fundstrat, Hardika Singh, menilai bahwa kenaikan imbal hasil memainkan peran besar dalam pelemahan harga emas saat ini. Dengan dolar yang menguat, minat terhadap logam mulia pun semakin berkurang.
Perubahan Kebijakan Global dan Meredanya Euforia Percepat Penurunan
Sejumlah bank sentral dunia juga menyesuaikan kebijakan moneternya akibat tekanan inflasi dan gangguan energi. Beberapa memilih mempertahankan atau menaikkan suku bunga, seperti yang dilakukan Reserve Bank of Australia.
Di sisi lain, euforia kenaikan harga emas yang sempat terjadi dalam dua tahun terakhir mulai mereda. Setelah melonjak hingga 64 persen pada 2025 dan menyentuh US$ 5.000 per troy ons pada Januari, harga emas kini turun di bawah US$ 4.500 per troy ons.
Perubahan sentimen ini mendorong sebagian investor menjual emas untuk menutup kerugian di aset lain, sehingga tekanan terhadap harga semakin besar.
