Investor Tingkatkan Portofolio Emas Saat Pasar Saham RI Ambrol?
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Investor Mengalihkan Portofolio ke Emas Saat Pasar Saham Indonesia Tertekan pada Januari 2026

Pelemahan IHSG mendorong investor memilih emas sebagai instrumen lindung nilai
Bisnis.com, Jakarta — Tekanan hebat di pasar saham Indonesia mendorong investor meningkatkan alokasi portofolio ke emas sepanjang Januari 2026. Ketika Indeks Harga Saham Gabungan bergerak volatil dan cenderung melemah, emas kembali menegaskan perannya sebagai aset safe haven yang relatif stabil di tengah ketidakpastian pasar keuangan.
Harga emas global memang sempat terkoreksi secara harian, namun kinerjanya secara bulanan tetap mencatat kenaikan signifikan. Kontrak emas Comex untuk April 2026 diperdagangkan di level US$5.076 per ons pada Jumat (30/1/2026), turun 5,76% dalam sehari. Di pasar spot, harga emas berada di kisaran US$5.055 per ons atau melemah 5,90%. Meski demikian, sepanjang Januari 2026 harga emas melonjak 17,30%, jauh melampaui kenaikan Januari 2025 yang hanya 5,29%.
Proyeksi bank investasi global memperkuat minat terhadap emas
Kenaikan tajam tersebut bahkan melampaui proyeksi Goldman Sachs Group Inc. Bank investasi asal Amerika Serikat itu sebelumnya merevisi target harga emas hingga US$5.400 per ons sampai akhir 2026. Ekspektasi tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa emas masih memiliki ruang untuk bertahan di level tinggi, meskipun volatilitas jangka pendek tetap membayangi.
Di pasar domestik, harga emas Antam turut mencerminkan dinamika serupa. Pada perdagangan Jumat (30/1/2026), emas Antam ukuran 0,5 gram dibanderol Rp1.610.000, turun Rp24.000 dari hari sebelumnya. Sementara itu, emas Antam 1 gram diperdagangkan di level Rp3.120.000, terkoreksi Rp48.000 dibandingkan dua hari sebelumnya. Meski mengalami penurunan harian, harga emas domestik tetap berada di area historis tinggi.
Transaksi emas ICDX tumbuh seiring rebalancing portofolio investor
Research and Derivatives Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva menilai pelemahan IHSG mendorong investor melakukan rebalancing portofolio ke instrumen defensif. Menurutnya, emas dipersepsikan lebih tahan terhadap gejolak pasar saham karena tidak bergantung langsung pada kinerja korporasi.
ICDX mencatat minat transaksi emas tetap kuat. Sepanjang 2025, volume transaksi multilateral mencapai 1.175.332 lot atau tumbuh 43,9% dibandingkan 2024. Kontrak emas berjangka berbasis rupiah, khususnya GOLDGR, menjadi kontributor utama dan tren tersebut berlanjut hingga tiga pekan pertama Januari 2026.
Penguatan pasar emas domestik menegaskan peran emas sebagai safe haven
Direktur ICDX Nursalam menyatakan pergeseran preferensi pelaku pasar dari kontrak berbasis dolar AS ke kontrak emas rupiah menunjukkan penguatan pasar emas domestik. Dominasi GOLDGR mencerminkan kebutuhan investor terhadap instrumen yang stabil, transparan, dan berorientasi dalam negeri.
Dengan ketidakpastian global yang masih tinggi, dinamika kebijakan moneter AS, serta volatilitas pasar saham dan nilai tukar, emas diproyeksikan tetap memainkan peran strategis sebagai alat lindung nilai dan diversifikasi portofolio sepanjang 2026.
