Waspada Perang Dunia Ke-3, Instrumen Investasi Ini Dinilai Paling Aman

Perencana Keuangan Mengarahkan Investor Memilih Instrumen Aman di Tengah Ancaman Konflik Global

Karyawan menunjukkan emas logam mulia di Butik Emas Antam di Jakarta, Rabu (29/10/2025)./JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Ketidakpastian Global Mendorong Investor Memperkuat Strategi Diversifikasi

Ketegangan geopolitik global dan meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi konflik antarnegara mendorong investor untuk menata ulang strategi pengelolaan aset. Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi, Mike Rini Sutikno, menegaskan bahwa diversifikasi portofolio menjadi langkah paling krusial untuk menjaga stabilitas nilai kekayaan di tengah situasi yang tidak menentu.

Mike menyampaikan bahwa investor tidak dapat lagi mengandalkan satu instrumen investasi dalam menghadapi tekanan global. Dengan menyebar aset ke beberapa instrumen, risiko dapat dikelola secara lebih proporsional sehingga gejolak pasar tidak langsung menggerus seluruh portofolio. Ia menyebut diversifikasi sebagai fondasi utama dalam perencanaan keuangan jangka panjang.

Obligasi Pemerintah Memberi Stabilitas dan Pendapatan Tetap

Dalam kondisi penuh ketidakpastian, Mike menilai obligasi pemerintah Indonesia menjadi salah satu instrumen yang paling relevan. Surat Utang Negara dan sukuk dinilai relatif aman karena mendapat jaminan langsung dari pemerintah. Selain itu, obligasi pemerintah menawarkan pendapatan tetap yang memberikan kepastian arus kas bagi investor.

Ia menjelaskan bahwa karakter obligasi pemerintah yang menjaga nilai pokok investasi membuat instrumen ini cocok bagi investor yang mengutamakan stabilitas. Dengan demikian, obligasi dapat berperan sebagai penyangga portofolio ketika pasar saham atau aset berisiko mengalami tekanan.

Emas Menegaskan Peran sebagai Aset Lindung Nilai

Selain obligasi, emas kembali menegaskan posisinya sebagai aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Mike mengungkapkan bahwa data historis menunjukkan harga emas cenderung menguat ketika konflik politik dan ekonomi global meningkat. Pola tersebut berulang dalam berbagai periode krisis, menjadikan emas sebagai pelindung nilai yang efektif.

Meski demikian, Mike menekankan pentingnya pengaturan porsi investasi emas. Ia merekomendasikan alokasi emas sebesar 10 hingga 15 persen dari total portofolio agar fungsi diversifikasi tetap optimal. Ia juga mengingatkan bahwa emas lebih sesuai untuk tujuan jangka panjang karena selisih harga beli dan jual membuatnya kurang ideal untuk kebutuhan jangka pendek.

Dana Darurat dan Saham Defensif Melengkapi Struktur Portofolio

Di luar instrumen investasi, Mike mendorong setiap investor untuk memiliki dana darurat yang memadai. Ia menyarankan dana darurat sebesar enam hingga 12 kali pengeluaran bulanan yang ditempatkan pada instrumen likuid seperti tabungan atau deposito. Dana tersebut berfungsi sebagai bantalan keuangan ketika kondisi tidak terduga terjadi.

Untuk aset berorientasi pertumbuhan, Mike menyarankan investor memilih saham dari sektor defensif seperti barang konsumsi, ritel kebutuhan pokok, dan kesehatan. Sektor-sektor ini dinilai lebih stabil dalam berbagai siklus ekonomi dan cocok untuk tujuan investasi jangka panjang di atas lima hingga 10 tahun. Ia menegaskan pentingnya disiplin, konsistensi, dan penyesuaian portofolio dengan profil risiko masing-masing investor.

Previous Post Next Post