Harga Emas Terguncang Imbas Perang, Saatnya Beli?
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Konflik Timur Tengah Guncang Harga Emas dan Buka Peluang Beli bagi Investor

Harga Emas Turun Tajam Setelah Sempat Diprediksi Tembus Rp3,5 Juta
Harga emas yang sebelumnya menunjukkan tren kenaikan kini justru mengalami tekanan signifikan menjelang Idulfitri 2026. Sebelumnya, logam mulia ini sempat diproyeksikan mencapai Rp3,5 juta per gram saat momentum Lebaran.
Namun, eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mengubah arah pergerakan pasar. Dalam waktu singkat, harga emas mengalami penurunan tajam dan menjauh dari target kenaikan tersebut.
Konflik Geopolitik Mendorong Investor Beralih ke Dolar AS
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama pelemahan harga emas. Ketidakjelasan situasi politik di Iran membuat pasar global dipenuhi ketidakpastian.
Minimnya pernyataan dari pihak Iran semakin memperkuat kekhawatiran investor. Akibatnya, banyak pelaku pasar memindahkan aset mereka dari emas ke dolar AS yang dianggap lebih aman dalam kondisi saat ini.
Lonjakan Harga Minyak dan Inflasi Menekan Harga Logam Mulia
Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak mentah juga memperburuk tekanan terhadap emas. Harga minyak brent yang mencapai US$112 per barel mendorong kenaikan inflasi global.
Kondisi tersebut kemudian memicu kebijakan pengetatan moneter. Bank sentral cenderung mempertahankan bahkan berpotensi menaikkan suku bunga untuk menahan laju inflasi, sehingga secara langsung menekan harga emas.
Kenaikan Suku Bunga Mengalihkan Minat Investor dari Emas
Kenaikan suku bunga membuat instrumen berbunga seperti obligasi dan deposito menjadi lebih menarik dibandingkan emas. Hal ini terjadi karena emas tidak memberikan imbal hasil secara langsung.
Akibatnya, investor mulai mengurangi kepemilikan emas dan beralih ke aset lain yang menawarkan keuntungan lebih pasti. Tekanan ini semakin memperdalam penurunan harga logam mulia di pasar.
Analis Menilai Koreksi Harga Menjadi Momentum Tepat untuk Membeli
Meski harga sedang melemah, Ibrahim menilai kondisi ini justru menjadi peluang bagi investor. Ia memprediksi harga emas akan kembali menguat menjelang akhir Maret 2026.
Menurutnya, peralihan dana ke dolar AS hanya bersifat sementara. Seiring perubahan kondisi global, arus investasi diperkirakan akan kembali mengarah ke emas.
Ia juga menegaskan bahwa emas tetap menjadi instrumen lindung nilai yang kuat. Bahkan, harga emas berpotensi menembus Rp3,5 juta per gram hingga akhir tahun, sehingga momentum koreksi saat ini dinilai ideal untuk melakukan pembelian.
