Harga Emas Galeri 24, UBS, Antam & Antam Retro Hari ini Obral Jumbo
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Harga Emas Galeri 24, Antam, dan UBS Kompak Anjlok pada 20 Maret 2026

Pegadaian Menurunkan Harga Emas Secara Serentak di Seluruh Produk
Harga emas batangan yang dijual melalui Galeri 24 Pegadaian mengalami penurunan tajam pada Jumat, 20 Maret 2026. Penurunan ini terjadi secara serentak di hampir semua jenis logam mulia, mulai dari Galeri 24, Antam, UBS, hingga Antam Retro.
Pegadaian tetap menawarkan berbagai ukuran emas mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram. Namun, tekanan pasar membuat seluruh lini produk mencatat koreksi harga yang cukup dalam dibandingkan hari sebelumnya.
Galeri 24 dan Antam Turun Tajam dari Posisi Sebelumnya
Harga emas Galeri 24 ukuran 1 gram turun menjadi Rp2.958.000 dari sebelumnya Rp3.012.000 per gram. Penurunan ini mencerminkan pelemahan signifikan dalam waktu singkat.
Sementara itu, emas Antam ukuran 1 gram juga mengalami penurunan tajam ke level Rp3.047.000. Harga tersebut merosot dari posisi sebelumnya di Rp3.101.000 per gram, memperlihatkan tekanan yang kuat di pasar domestik.
UBS Mengikuti Tren Penurunan Harga Emas
Produk emas UBS turut mencatat penurunan harga yang cukup dalam. Untuk ukuran 1 gram, harga emas UBS turun menjadi Rp2.972.000 dari sebelumnya Rp3.026.000 per gram.
Penurunan ini menunjukkan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi pada satu produk, tetapi menyebar ke seluruh segmen logam mulia di Pegadaian.
Antam Retro Ikut Jatuh dan Perkuat Tren Pelemahan
Emas Antam Retro juga tidak luput dari tekanan pasar. Harga untuk ukuran 1 gram turun ke level Rp2.992.000 dari sebelumnya Rp3.047.000 per gram.
Koreksi ini semakin menegaskan bahwa pasar emas domestik sedang mengalami fase penurunan yang cukup luas.
Pasar Emas Domestik Mengalami Tekanan dan Cerminkan Sentimen Global
Penurunan harga emas secara menyeluruh mencerminkan adanya tekanan dari dinamika pasar global. Pelaku pasar merespons perubahan sentimen yang memengaruhi pergerakan harga logam mulia.
Dengan kondisi ini, harga emas masih berpotensi bergerak fluktuatif mengikuti perkembangan ekonomi global dan arah kebijakan moneter ke depan.
