Pembeli Emas Gigit Jari, Data Tenaga Kerja AS Gagalkan Potensi Cuan dari The Fed
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Data Tenaga Kerja AS Tekan Harga Emas dan Buyarkan Harapan Pemangkasan Suku Bunga The Fed

Harga emas terkoreksi setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan kinerja yang solid dan memupus ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Laporan terbaru itu langsung memengaruhi sentimen pasar global dan menahan laju reli logam mulia.
Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis, 12 Februari 2026, harga emas di pasar spot turun 0,39 persen ke level US$5.064,36 per troy ounce. Sementara itu, harga emas Comex melemah 0,23 persen ke posisi US$5.086,90 per troy ounce. Pada sesi sebelumnya, harga emas sempat tertekan hingga 0,8 persen setelah sempat menguat 1,2 persen.
Lonjakan Payroll AS Ubah Ekspektasi Pasar terhadap Kebijakan The Fed
Pasar merespons kuat lonjakan payroll AS yang mencatat kenaikan terbesar dalam lebih dari setahun. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran secara tak terduga turun pada Januari. Data tersebut menegaskan stabilitas pasar tenaga kerja AS pada awal 2026.
Kondisi itu mendorong pelaku pasar memundurkan proyeksi pemangkasan suku bunga oleh The Fed dari Juni menjadi Juli. Suku bunga yang lebih rendah biasanya mendukung harga emas karena logam mulia tidak menawarkan imbal hasil bunga. Ketika peluang pelonggaran kebijakan menyempit, investor pun menahan aksi beli emas.
Meski tertekan, harga emas masih bertahan di atas level psikologis US$5.000 per ounce. Logam mulia ini juga telah memulihkan sekitar separuh kerugian setelah gejolak tajam pada awal bulan.
Aksi Spekulatif Picu Volatilitas Tajam di Pasar Emas
Pada akhir Januari, harga emas sempat menembus rekor tertinggi di atas US$5.595 per ounce. Namun, aksi beli spekulatif yang berlebihan memicu reli cepat yang kemudian berbalik arah. Dalam dua sesi perdagangan, harga emas anjlok sekitar 13 persen.
Sejumlah bank global tetap mempertahankan proyeksi bullish. BNP Paribas SA memperkirakan harga emas dapat mencapai US$6.000 per ounce pada akhir tahun. Deutsche Bank AG dan Goldman Sachs Group Inc. juga menyampaikan proyeksi optimistis serupa. Mereka menilai ketegangan geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi The Fed, serta pergeseran investasi dari mata uang dan obligasi pemerintah masih menopang tren jangka panjang emas.
Harga Perak Berfluktuasi Tajam dan Shanghai Futures Exchange Batasi Kontrak
Di pasar logam lainnya, harga perak turun hingga 3,2 persen pada Kamis sebelum akhirnya melemah 1,1 persen ke level US$83,39 per ounce. Perak menunjukkan volatilitas tinggi karena ukuran pasar yang lebih kecil dan likuiditas yang lebih rendah dibanding emas.
Harga perak kini berada sekitar sepertiga di bawah rekor tertinggi yang dicapai pada 29 Januari. Koreksi itu terjadi setelah perak sempat melonjak 4,3 persen menyusul laporan Silver Institute yang menyebut pasar perak akan mengalami defisit untuk tahun keenam berturut-turut.
Di China, permintaan investasi dan industri terus menyerap pasokan perak. Untuk menahan arus keluar stok dari gudang, Shanghai Futures Exchange mencegah sejumlah pelaku usaha yang memegang kontrak berjangka lindung nilai membawa kontraknya hingga tahap pengiriman fisik.
Sementara itu, platinum turun 0,4 persen dan paladium melemah 0,3 persen. Indeks Bloomberg Dollar Spot tercatat turun tipis 0,1 persen.
