Harga Emas Terperosok Tajam, Volatilitas Perak Memanas
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Harga Emas Terjun Tajam Saat Volatilitas Perak Meningkat pada Senin 2 Februari 2026

Koreksi Terbesar Satu Dekade Mengguncang Pasar Emas Global
Bisnis.com, Jakarta — Harga emas global terperosok tajam pada perdagangan Senin (2/2/2026) setelah mencatatkan penurunan harian terbesar dalam lebih dari satu dekade. Tekanan jual yang masif mendorong harga emas spot sempat anjlok hingga 6,3 persen sebelum bergerak di kisaran US$4.680,76 per troy ounce, atau turun sekitar 4,4 persen pada sesi yang sama.
Koreksi tajam ini terjadi setelah reli panjang membawa harga emas menembus rekor tertinggi sepanjang masa. Lonjakan harga dalam setahun terakhir membuat pasar berada dalam posisi yang rapuh, sehingga aksi ambil untung langsung memicu pergerakan ekstrem ketika sentimen berubah.
Pergerakan Harga Perak Berfluktuasi Liar di Tengah Volatilitas Tinggi
Di saat yang sama, harga perak bergerak sangat fluktuatif dan mencerminkan volatilitas yang semakin memanas. Harga perak sempat merosot ke kisaran US$75 per troy ounce setelah sebelumnya menguat hingga 3,2 persen. Pada sesi sebelumnya, logam putih tersebut mencatatkan penurunan intraday terbesar sepanjang sejarah perdagangan.
Pergerakan liar ini menegaskan meningkatnya tekanan di pasar logam mulia, seiring pelaku pasar mengurangi eksposur risiko setelah lonjakan harga yang agresif dalam beberapa bulan terakhir.
Pelaku Pasar Menahan Risiko Saat Likuiditas Menyempit
Pengamat pasar independen dan mantan trader logam mulia JPMorgan Chase & Co., Robert Gottlieb, menilai koreksi harga belum sepenuhnya berakhir. Ia menyebut kepadatan posisi perdagangan membuat pasar rentan terhadap pergerakan tajam ketika sentimen berbalik arah.
Menurutnya, pelaku pasar kini menahan diri untuk mengambil risiko lanjutan, sehingga likuiditas berpotensi semakin terbatas. Kondisi tersebut meningkatkan peluang volatilitas tinggi dalam jangka pendek, sembari pasar mencari level penopang baru.
Pencalonan Ketua The Fed Baru Memicu Aksi Jual Logam Mulia
Pemicu utama aksi jual tajam berasal dari kabar pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Informasi ini mendorong penguatan dolar AS dan menekan sentimen investor yang sebelumnya bertaruh pada pelemahan mata uang tersebut.
Pelaku pasar menilai Warsh sebagai figur yang agresif dalam memerangi inflasi. Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat memperkuat dolar AS dan mengurangi daya tarik emas serta perak yang dihargai dalam greenback. Kondisi ini mempercepat aksi jual di pasar logam mulia yang sebelumnya sudah berada dalam fase euforia.
Lonjakan Opsi Beli Memperbesar Tekanan Pasar
Goldman Sachs Group Inc. mencatat lonjakan pembelian opsi beli emas dalam jumlah rekor selama reli sebelumnya. Aktivitas lindung nilai dari penjual opsi dengan membeli emas secara mekanis memperkuat kenaikan harga. Namun, ketika arah pasar berbalik, struktur tersebut justru memperbesar tekanan jual dan mempercepat koreksi harga.
