Harga Emas dan Perak Perlahan Bangkit Usai Koreksi Tajam

Harga Emas dan Perak Bangkit Perlahan Setelah Investor Memborong Aset Safe Haven

Karyawan menunjukkan emas logam mulia di Butik Emas Antam di Jakarta, Rabu (29/10/2025)./JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Aksi Beli Investor Mengangkat Harga Emas Usai Koreksi Terdalam Satu Dekade

Harga emas dunia mulai menunjukkan pemulihan setelah mengalami koreksi tajam dalam dua hari terakhir. Pada perdagangan Selasa, 3 Februari 2026, harga emas di pasar spot bangkit seiring meningkatnya aksi beli investor yang memanfaatkan penurunan harga sebelumnya. Data Bloomberg mencatat harga emas sempat menguat hingga 4,2 persen ke level US$4.855 per troy ounce sebelum terkoreksi tipis dan bertahan di US$4.808,63 per troy ounce, atau naik 3,2 persen.

Pemulihan ini terjadi setelah harga emas anjlok sekitar 13 persen dalam dua hari, termasuk penurunan 4,8 persen pada sesi sebelumnya. Koreksi tersebut tercatat sebagai penurunan harian terdalam dalam lebih dari satu dekade, mengakhiri reli cepat yang sempat membawa emas menembus rekor tertinggi pada Januari 2026.

Ketegangan Geopolitik dan Spekulasi China Menggerakkan Pasar Logam Mulia

Reli emas sebelumnya didorong oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap ketegangan geopolitik global, pelemahan mata uang, serta isu independensi bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve. Kondisi tersebut mendorong investor global, termasuk dari China, untuk memborong emas dan perak sebagai aset lindung nilai.

Namun, penguatan dolar AS pada akhir pekan lalu memicu pembalikan arah harga. Meski demikian, pelaku pasar menilai keputusan investor China untuk kembali melakukan aksi beli saat harga terkoreksi akan menjadi penentu utama arah pergerakan emas dalam jangka pendek.

Permintaan Fisik di China Menopang Pemulihan Harga

Selama akhir pekan, aktivitas pembelian emas fisik meningkat di Shenzhen, salah satu pasar emas terbesar di China. Masyarakat memadati pusat penjualan perhiasan dan emas batangan menjelang perayaan Tahun Baru Imlek. Sentimen ini muncul di tengah rencana penutupan pasar keuangan China selama lebih dari sepekan mulai 16 Februari 2026.

Di sisi lain, sejumlah bank milik negara di China memperketat pengawasan transaksi emas guna menekan volatilitas pasar. Langkah ini diambil untuk meredam lonjakan spekulatif yang sebelumnya mempercepat reli harga logam mulia.

Analis Menilai Volatilitas Tetap Tinggi Meski Prospek Jangka Panjang Positif

Analis pasar Pepperstone Group Ltd., Ahmad Assiri, menilai fondasi fundamental emas tidak banyak berubah dibandingkan sebelum koreksi tajam. Meski demikian, ia memperkirakan volatilitas harga masih akan tinggi seiring pasar menyesuaikan diri dengan dislokasi harga terbaru dan perubahan selera risiko investor.

Sejumlah bank global tetap optimistis terhadap prospek emas. Deutsche Bank AG mempertahankan proyeksi harga emas berpotensi mencapai US$6.000 per troy ounce. Sementara itu, harga perak juga mencatat rebound signifikan dengan kenaikan hingga 8,1 persen menembus US$85 per troy ounce, setelah sehari sebelumnya anjlok 7 persen dan mencetak penurunan intraday terdalam dalam sejarah pada 30 Januari.

Previous Post Next Post