Ini Alasan Harga Emas Turun di Tengah Ketegangan Iran Vs. AS
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Harga Emas Melemah di Tengah Ketegangan Iran dan Amerika Serikat pada Maret 2026

Pasar Mengalihkan Perhatian dari Konflik ke Fundamental Ekonomi Global
Harga emas sempat melonjak ketika ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat meningkat pada akhir Februari 2026. Namun, pergerakan tersebut tidak bertahan lama karena harga logam mulia justru melemah dalam beberapa pekan setelahnya.
Perubahan arah ini menunjukkan bahwa pelaku pasar tidak hanya mempertimbangkan risiko geopolitik. Sebaliknya, mereka mulai memprioritaskan faktor fundamental ekonomi global yang dinilai lebih berpengaruh terhadap pergerakan harga emas.
Pada fase awal konflik, investor langsung mencari aset aman sehingga harga emas terdorong naik. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ekspektasi ekonomi global mulai menggeser sentimen pasar.
Lonjakan Harga Energi Memicu Ekspektasi Inflasi dan Suku Bunga Tinggi
Kenaikan harga energi akibat konflik memicu kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini kemudian mendorong ekspektasi bahwa bank sentral, terutama Federal Reserve, akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Mark Haefele dari UBS Global Wealth Management menjelaskan bahwa peningkatan imbal hasil riil menjadi faktor utama yang menekan harga emas. Karena emas tidak memberikan imbal hasil, investor cenderung beralih ke instrumen lain yang menawarkan keuntungan lebih tinggi dalam kondisi suku bunga tinggi.
Penguatan Dolar AS Mengurangi Daya Tarik Investasi Emas
Selain tekanan dari suku bunga, penguatan dolar Amerika Serikat turut memperlemah posisi emas di pasar global. Dalam situasi krisis, dolar AS sering menguat sebagai aset lindung nilai utama.
Kombinasi antara dolar yang kuat dan imbal hasil riil yang meningkat membuat emas menjadi kurang kompetitif. Akibatnya, minat investor terhadap emas menurun meskipun ketegangan geopolitik masih berlangsung.
Pelaku Pasar Melakukan Aksi Ambil Untung Setelah Kenaikan Harga Panjang
Pelaku pasar juga memanfaatkan volatilitas untuk merealisasikan keuntungan setelah harga emas mengalami kenaikan signifikan sepanjang 2025. Aksi ambil untung ini membatasi potensi kenaikan lanjutan dalam jangka pendek.
Selain itu, kebutuhan likuiditas di tengah ketidakpastian global mendorong sebagian investor menjual emas yang mereka miliki. Tekanan jual tersebut semakin mempercepat pelemahan harga dalam beberapa waktu terakhir.
Analis Memproyeksikan Harga Emas Tetap Menguat dalam Jangka Panjang
Meski harga emas melemah dalam jangka pendek, sejumlah analis tetap optimistis terhadap prospeknya. Daniel Marburger, CEO StoneX Bullion, menilai harga emas masih berpotensi naik meskipun akan bergerak fluktuatif.
Ia menyebutkan bahwa faktor seperti imbal hasil riil, kekuatan dolar AS, perkembangan geopolitik, serta permintaan dari bank sentral akan menjadi penentu utama arah harga. UBS bahkan memproyeksikan harga emas dapat mencapai sekitar US$6.200 per ons pada September 2026, sementara Deutsche Bank dan Société Générale memperkirakan level US$6.000 per ons hingga akhir tahun.
Dalam strategi investasi, analis menyarankan agar investor menempatkan emas sebagai aset lindung nilai jangka panjang. Alokasi sekitar 10 hingga 15 persen dalam portofolio dinilai mampu menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian ekonomi global.
