Alarm Pergerakan Harga Emas Jelang Lebaran 2026

Harga Emas Melemah Jelang Lebaran 2026 akibat Tekanan Global

Emas batangan atau logam mulia bertema Imlek Year of The Horse yang diluncurkan Antam./dok. Antam

Pasar Emas Mencatat Penurunan Mingguan Terbesar Sejak 2020

Harga emas menunjukkan tekanan signifikan menjelang Lebaran 2026 seiring meningkatnya ketidakpastian global. Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat, 20 Maret 2026, harga emas spot sempat menguat 0,75% ke level US$4.685,10 per troy ounce setelah mengakhiri tren penurunan selama tujuh hari berturut-turut pada sehari sebelumnya.

Meskipun sempat menguat, harga emas tetap mencatat penurunan hampir 8% sepanjang pekan ini. Angka tersebut menjadi pelemahan mingguan terbesar sejak Maret 2020, sekaligus menandai perubahan sentimen pasar terhadap logam mulia.

Konflik Timur Tengah Mendorong Lonjakan Harga Energi Global

Selanjutnya, konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, mendorong lonjakan harga minyak mentah, gas alam, dan bahan bakar lainnya. Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran inflasi yang semakin tinggi di berbagai negara.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan bank sentral, termasuk Federal Reserve, akan menunda pemangkasan suku bunga. Akibatnya, emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga menjadi kurang menarik bagi investor dalam jangka pendek.

Kenaikan Imbal Hasil Obligasi dan Dolar AS Menekan Harga Emas

Di sisi lain, penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut menekan harga emas. Situasi ini mendorong investor untuk mengalihkan dana ke instrumen yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.

Selain itu, sejumlah investor juga melakukan aksi jual emas untuk menutup kerugian di aset lain. Arus keluar dari exchange-traded funds (ETF) berbasis emas semakin memperkuat tekanan terhadap harga logam mulia tersebut.

Analis Mengingatkan Volatilitas Tinggi Masih Membayangi Pasar

Mantan trader logam mulia JPMorgan Chase & Co., Robert Gottlieb, mengingatkan bahwa volatilitas harga emas masih berada pada level tinggi. Ia menilai investor sebaiknya tidak terburu-buru membeli saat harga turun karena tekanan pasar belum mereda.

Menurutnya, selama harga belum menunjukkan konsolidasi yang stabil, potensi penurunan lanjutan masih terbuka. Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati pergerakan harga dengan lebih hati-hati.

Kebijakan The Fed Menahan Suku Bunga Memperkuat Tekanan Pasar

Pada pertengahan pekan ini, Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga sesuai ekspektasi pasar. Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa pelonggaran kebijakan hanya akan dilakukan jika inflasi menunjukkan penurunan yang signifikan.

Kebijakan tersebut memperkuat tekanan terhadap harga emas, karena suku bunga tinggi meningkatkan daya tarik aset berbunga. Situasi ini mencerminkan pola serupa pada 2022 saat konflik Rusia dan Ukraina memicu guncangan energi global.

Meski demikian, secara tahunan harga emas masih mencatat kenaikan sekitar 8% sejak awal 2026. Sebelumnya, emas sempat menyentuh rekor mendekati US$5.600 per ons pada akhir Januari, didorong oleh pembelian bank sentral dan meningkatnya minat investor.

Previous Post Next Post