Harga Emas Merangkak Naik, Kian Dekati US$5.000 per Troy Ounces

Harga Emas Global Menembus Rekor Baru dan Semakin Dekati US$5.000 per Troy Ounce

Bongkahan emas, salah satu aset safe haven pilihan investor global. / Bloomberg-Akos Stiller

Pasar Global Mendorong Harga Emas Mencapai Level Tertinggi Sepanjang Sejarah

JAKARTA — Harga emas global kembali mencetak rekor baru pada perdagangan Jumat, 23 Januari 2026, dan semakin mendekati level psikologis US$5.000 per troy ounce. Penguatan harga tersebut mencerminkan meningkatnya minat investor global terhadap emas di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang terus membayangi pasar keuangan dunia.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 11.00 WIB, harga emas spot menguat 0,33 persen atau naik 16,3 poin ke posisi US$4.952,32 per troy ounce. Capaian tersebut menjadi level tertinggi baru sepanjang masa untuk emas spot. Pada saat yang sama, kontrak emas berjangka Comex turut menguat 40,6 poin ke level US$4.954 per troy ounce, memperkuat sinyal tren kenaikan harga emas global.

Penguatan Harga Global Mengerek Harga Emas di Dalam Negeri

Kenaikan harga emas internasional langsung berdampak pada pasar domestik. Di Indonesia, harga emas Antam ukuran 1 gram tercatat mencapai Rp2.880.000 pada perdagangan hari ini, naik Rp90.000 dibandingkan hari sebelumnya yang berada di level Rp2.790.000 per gram. Lonjakan harga tersebut membuat harga emas Antam semakin mendekati ambang Rp3 juta per gram.

Di sisi lain, Pegadaian mencatat harga jual emas Antam ukuran 1 gram telah menembus Rp3.069.000. Perbedaan harga tersebut mencerminkan tingginya permintaan emas ritel serta penyesuaian harga yang mengikuti pergerakan pasar global.

Peneliti Menilai Emas Tetap Menjadi Aset Pelindung Nilai Utama

Research Director Prasasti Center for Policy Studies, Gundy Cahyadi, menilai penguatan harga emas kembali menegaskan posisi emas sebagai aset pelindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Menurutnya, emas secara historis menunjukkan kinerja positif ketika risiko ekonomi dan geopolitik meningkat.

Gundy menjelaskan bahwa pergerakan harga emas saat ini terutama dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni inflasi, arah suku bunga global, dan eskalasi ketegangan geopolitik. Ketika konflik meningkat dan risiko sistemik membesar, kepercayaan terhadap stabilitas keuangan global melemah. Dalam kondisi tersebut, investor cenderung beralih ke emas karena tidak bergantung pada satu negara maupun mata uang tertentu.

Siklus Suku Bunga dan Inflasi Menguatkan Relevansi Emas

Suku bunga global tetap menjadi faktor kunci dalam membentuk arah harga emas. Suku bunga tinggi memang dapat menekan minat emas dalam jangka pendek, namun ketika pasar menilai siklus pengetatan mendekati puncaknya atau risiko resesi meningkat, emas kembali relevan sebagai instrumen lindung nilai. Inflasi juga memperkuat daya tarik emas, terutama ketika berjalan beriringan dengan ketegangan politik dan ketidakpastian global.

Pada 2025, harga emas tercatat naik belasan persen seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta tekanan terhadap dolar AS. Kondisi tersebut kembali mengangkat emas sebagai instrumen penjaga daya beli dan stabilitas portofolio jangka panjang.

Previous Post Next Post