Harga Emas Global Terjun Bebas, Tinggalkan Level US$5.000 per Ons
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Harga Emas Global Anjlok Tajam dan Menembus ke Bawah US$5.000 per Ons pada Akhir Januari 2026

Penguatan dolar AS dan isu calon Ketua The Fed memicu aksi jual besar-besaran emas global
Bisnis.com, Jakarta — Harga emas global mengalami kejatuhan tajam pada Sabtu (31/1/2026) dan turun ke bawah level psikologis US$5.000 per troy ounce setelah sebelumnya mencatat reli panjang hingga rekor tertinggi sepanjang masa. Aksi jual besar-besaran muncul seiring penguatan dolar Amerika Serikat dan meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter ketat di AS.
Data Bloomberg menunjukkan harga emas spot anjlok 481,01 poin atau 8,95% ke level US$4.894,23 per troy ounce pada pukul 06.45 WIB. Pada saat yang sama, kontrak emas berjangka Comex jatuh lebih dalam dengan penurunan 609,7 poin atau 11,39% ke posisi US$4.745 per troy ounce. Penurunan intraday tersebut tercatat sebagai yang terbesar sejak awal 1980-an atau dalam lebih dari empat dekade terakhir.
Tekanan jual logam mulia meluas ke perak dan tembaga
Gelombang aksi jual tidak hanya menekan emas, tetapi juga menyeret logam mulia dan industri lainnya. Harga perak anjlok hingga 36% dalam perdagangan intraday, mencatat koreksi harian terdalam akibat pelepasan posisi besar-besaran di pasar logam. Sementara itu, harga tembaga di London Metals Exchange terkoreksi 3,4% seiring meredanya minat risiko investor global.
Di pasar valuta asing, dolar AS melonjak signifikan setelah investor melepas mata uang berbasis komoditas seperti dolar Australia dan krona Swedia. Indeks dolar AS Bloomberg tercatat naik 0,71 poin ke level 96,9910, yang secara langsung menekan harga emas karena logam mulia tersebut diperdagangkan dalam denominasi dolar.
Isu nominasi Ketua The Fed baru memperkuat dolar AS
Penguatan dolar AS dipicu laporan bahwa pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersiap mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve untuk menggantikan Jerome Powell. Pelaku pasar menilai Warsh sebagai figur dengan sikap keras terhadap inflasi, sehingga meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan mendukung penguatan dolar.
Kepala Strategi Emas dan Logam Mulia Global State Street Investment Management Aakash Doshi menilai kabar tersebut langsung berdampak negatif bagi emas. Ia menyebut penguatan dolar dan penyeimbangan ulang portofolio akhir bulan mempercepat pembalikan tren yang sebelumnya sangat bullish.
Volatilitas ekstrem menekan saham perusahaan tambang emas
Analis Oversea-Chinese Banking Corp Christopher Wong menyatakan pergerakan harga emas mengonfirmasi risiko koreksi tajam setelah kenaikan parabolik. Senada, Kepala Perdagangan Heraeus Precious Metals Dominik Sperzel menilai pasar perlu bersiap menghadapi volatilitas ekstrem yang menyerupai roller coaster.
Kondisi tersebut turut menekan saham perusahaan tambang emas di bursa New York. Saham Newmont Corp., Barrick Mining Corp., dan Agnico Eagle Mines Ltd. masing-masing anjlok lebih dari 10% seiring jatuhnya harga emas global.
