Harga Emas Rontok di Tengah Perang AS & Israel Lawan Iran

Perang AS dan Israel Melawan Iran Tekan Harga Emas Dunia Hingga Anjlok Tajam

Gold bars of various values are stored in a safe deposit room in Munich, Germany, January 28, 2026. REUTERS/ Angelika Warmuth

Konflik Timur Tengah Picu Gangguan Energi dan Seret Harga Emas Turun

Harga emas dunia langsung melemah tajam di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ketegangan geopolitik tersebut memicu gangguan pada pasokan minyak global serta infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah, sehingga memicu gejolak pasar yang signifikan.

Sepanjang sepekan terakhir, harga emas tercatat merosot hingga 11 persen. Penurunan ini menjadi yang terbesar sejak 1983. Bahkan sejak konflik antara Amerika Serikat dan Iran mulai berlangsung, harga logam mulia tersebut sudah terkoreksi lebih dari 14 persen.

Kenaikan Harga Energi Dorong Bank Sentral Tahan Suku Bunga

Di tengah kondisi global yang tidak pasti, investor biasanya beralih ke emas sebagai aset aman. Namun kali ini, lonjakan harga energi justru mendorong bank sentral untuk meninjau ulang kebijakan moneternya, terutama terkait suku bunga.

Akibatnya, ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi membuat daya tarik emas melemah. Investor kemudian mulai mempertimbangkan kembali portofolio mereka karena instrumen berbasis imbal hasil seperti obligasi menjadi lebih menarik.

Penguatan Dolar AS Percepat Penurunan Harga Emas

Selain faktor suku bunga, penguatan dolar AS juga mempercepat tekanan terhadap harga emas. Dalam beberapa pekan terakhir, indeks dolar tercatat naik hampir 2 persen, sehingga membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor global.

Kondisi ini turut mengurangi minat terhadap logam mulia. Ekonom Fundstrat, Hardika Singh, menegaskan bahwa kenaikan imbal hasil menjadi faktor utama yang menekan harga emas dalam periode terbaru.

Bank Sentral Global Ikut Ubah Kebijakan Imbas Inflasi dan Perang

Tidak hanya The Fed, sejumlah bank sentral dunia juga mulai menyesuaikan kebijakan mereka akibat tekanan inflasi dan gangguan energi. Beberapa di antaranya memilih mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga, seperti yang dilakukan oleh Reserve Bank of Australia.

Langkah ini semakin memperkuat tren kenaikan imbal hasil obligasi global. Dengan demikian, investor cenderung mengalihkan dana dari emas ke instrumen lain yang menawarkan keuntungan lebih tinggi.

Euforia Kenaikan Emas Mulai Mereda Setelah Lonjakan Besar

Setelah mencatat kenaikan besar dalam dua tahun terakhir, tren positif emas kini mulai kehilangan momentum. Pada 2025, harga emas bahkan sempat melonjak hingga 64 persen dan menyentuh level US$ 5.000 per troy ons pada Januari.

Namun, seiring meredanya euforia pasar, harga emas kini turun di bawah US$ 4.500 per troy ons. Selain itu, sebagian investor juga memilih menjual emas untuk menutup kerugian di aset lain, sehingga tekanan harga semakin besar.

Previous Post Next Post