Harga Emas Ambruk 7 Hari Beruntun: ke Level US$ 4600-Terendah 2 Bulan

Harga Emas Dunia Anjlok Tujuh Hari Beruntun dan Sentuh Level Terendah Dua Bulan

Ini 8 Perusahaan RI Punya “Gudang” Emas Terbesar, Siapa Jadi Raja?

Harga Emas Global Terus Melemah Hingga Menyentuh Level US$4.648

Harga emas dunia kembali melanjutkan tren penurunan pada perdagangan Kamis, 19 Maret 2026. Berdasarkan data Refinitiv, harga emas ditutup di level US$4.648,23 per troy ons atau turun 3,51% dalam sehari.

Penurunan tersebut membawa harga emas ke titik terendah sejak 16 Januari 2026. Dengan demikian, harga logam mulia kini berada di posisi terlemah dalam dua bulan terakhir setelah mengalami tekanan berturut-turut.

Tren Penurunan Berlanjut Selama Tujuh Hari dan Hapus Reli Sebelumnya

Jika ditarik dalam periode lebih panjang, harga emas telah melemah selama tujuh hari berturut-turut dengan total penurunan mencapai 10,5%. Tekanan ini menghapus sebagian besar kenaikan yang terbentuk sepanjang 2025.

Sebelumnya, pada 17 hingga 18 Maret 2026, harga emas masih bertahan di kisaran US$5.000 per troy ons. Namun, harga kemudian jatuh tajam pada 19 Maret hingga mendekati level US$4.600, menandai fase koreksi terdalam dalam beberapa waktu terakhir.

Harga Emas Bergerak Datar Setelah Tekanan Tajam

Setelah mengalami penurunan signifikan, harga emas mulai menunjukkan pergerakan terbatas pada Jumat, 20 Maret 2026. Pada pukul 08.04 WIB, harga emas tercatat naik tipis 0,001% ke posisi US$4.648,39 per troy ons.

Pergerakan ini mencerminkan pasar yang masih berhati-hati setelah mengalami tekanan besar dalam beberapa hari terakhir.

Lonjakan Harga Energi Memicu Tekanan Baru pada Emas

Kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas. Lonjakan harga minyak yang menembus US$110 per barel meningkatkan risiko inflasi global.

Kondisi tersebut mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter. Bank sentral global cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menahan inflasi, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.

Suku Bunga Tinggi dan Aksi Ambil Untung Menekan Permintaan Emas

Lingkungan suku bunga tinggi membuat investor beralih ke instrumen yang memberikan imbal hasil lebih menarik. Selain itu, pelaku pasar juga mulai melakukan aksi ambil untung setelah reli panjang emas sepanjang 2025.

Perpindahan dana ke sektor energi yang sedang menguat semakin mempercepat tekanan terhadap harga emas. Analis TD Securities Daniel Ghali menilai bahwa fondasi harga emas mulai melemah dan membuka peluang penurunan lanjutan dalam jangka pendek.

Ketegangan Timur Tengah dan Kebijakan Bank Sentral Tentukan Arah Emas

Ke depan, arah pergerakan harga emas akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik dan respons bank sentral terhadap lonjakan inflasi energi. Ketegangan antara Iran dan Israel terus meningkatkan ketidakpastian global.

Selama ekspektasi suku bunga tinggi tetap bertahan, ruang pemulihan harga emas diperkirakan masih terbatas. Namun demikian, dinamika geopolitik tetap berpotensi memicu permintaan terhadap aset safe haven dalam jangka panjang.

Previous Post Next Post