Bank Investasi Tetap Optimistis, Harga Emas Stabil di Atas US$5.000 per ons

Bank Investasi Pertahankan Optimisme Saat Harga Emas Stabil di Atas US$5.000 per Ons

Logam mulia Emasku yang diproduksi oleh PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA)./dok. HRTA

Harga emas bertahan di atas level US$5.000 per ons setelah menguat selama dua hari berturut-turut, sementara investor mengevaluasi apakah pasar telah menemukan titik terendah usai aksi jual besar pada akhir Januari 2026. Stabilitas ini memunculkan kembali keyakinan sejumlah bank investasi terhadap prospek logam mulia tersebut.

Pada perdagangan Rabu (10/2/2026), harga emas spot bergerak dalam rentang terbatas. Logam mulia itu tercatat turun tipis 0,3% menjadi US$5.042,42 per ons pada pukul 10.13 waktu London. Di saat yang sama, harga perak melemah 1,7% ke posisi US$81,96 per ons, sedangkan platinum dan palladium juga diperdagangkan di zona merah. Indeks Spot Dolar Bloomberg relatif stabil setelah sebelumnya turun 0,6%.

Sebelumnya, emas telah terkoreksi sekitar 10% sejak mencetak rekor tertinggi pada 29 Januari 2026. Penurunan tajam itu terjadi setelah lonjakan harga yang dipicu permintaan spekulatif terhenti mendadak. Bahkan, perak mencatat penurunan harian terbesar sepanjang sejarah, sementara emas mengalami pelemahan terdalam sejak 2013.

UBS dan Bank Global Yakin Reli Emas Berlanjut

Meski volatilitas meningkat, sejumlah lembaga keuangan global tetap mempertahankan pandangan positif. Kepala Investasi Manajemen Kekayaan Global di UBS Group AG, Mark Haefele, menilai gejolak terbaru tidak menghapus fungsi emas sebagai aset lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan ketidakpastian pasar.

Ia menegaskan reli harga emas masih berpotensi berlanjut karena faktor fundamental tetap kuat. Risiko geopolitik yang meningkat, pembelian agresif bank sentral, serta ekspektasi suku bunga lebih rendah terus menopang prospek logam mulia.

Optimisme serupa juga datang dari Deutsche Bank AG dan Goldman Sachs Group Inc. yang mendukung potensi pemulihan harga emas batangan dalam jangka menengah hingga panjang.

Pembelian Bank Sentral China dan Arah The Fed Perkuat Sentimen

Bank sentral China kembali memperpanjang tren pembelian emasnya hingga bulan ke-15 pada Januari 2026. Langkah ini mempertegas permintaan resmi yang solid di tengah dinamika pasar global.

Di sisi lain, dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat turut memengaruhi sentimen. Gubernur The Fed pilihan Presiden Donald Trump, Kevin Warsh, mendorong penurunan suku bunga, yang dinilai dapat memberikan dukungan tambahan bagi harga emas meski kekhawatiran terhadap nilai dolar AS mulai mereda.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data ekonomi Amerika Serikat pada akhir pekan ini. Laporan ketenagakerjaan Januari yang dirilis Rabu (10/2/2026) diperkirakan menunjukkan stabilisasi pasar tenaga kerja, sedangkan data inflasi yang terbit Jumat akan memberi petunjuk lanjutan arah kebijakan Federal Reserve.

Previous Post Next Post