Badai Datang! Harga Emas Hancur, Jatuh ke Level Terendah Sebulan
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Harga Emas Anjlok Tajam Setelah Keputusan The Fed dan Sentuh Level Terendah dalam Sebulan

Pasar Emas Global Tertekan Usai Pernyataan The Fed
Harga emas global jatuh signifikan pada perdagangan Rabu, 18 Maret 2026, setelah bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, mengumumkan kebijakan terbarunya. Berdasarkan data Refinitiv, harga emas ditutup di level US$4.817,63 per troy ons atau merosot 3,73% dalam sehari.
Penurunan tajam ini langsung membawa harga emas ke posisi terendah sejak 5 Februari 2026. Selain itu, pelemahan harian tersebut menjadi yang terdalam dalam lebih dari satu bulan terakhir, menandakan tekanan besar di pasar logam mulia.
Harga Emas Mulai Bangkit Tipis di Perdagangan Pagi Hari
Meski mengalami tekanan kuat, harga emas mulai menunjukkan tanda pemulihan pada Kamis, 19 Maret 2026. Pada pukul 06.24 WIB, harga emas naik tipis 0,31% ke level US$4.832,52 per troy ons.
Kenaikan ini terjadi setelah aksi jual besar sehari sebelumnya, meskipun pasar masih bergerak hati-hati menunggu perkembangan lanjutan dari kebijakan moneter global.
Pernyataan Jerome Powell Memicu Tekanan Jual di Pasar
Tekanan terhadap emas meningkat setelah Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan bahwa kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi. Pernyataan ini langsung memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga.
Inflasi yang lebih tinggi membuat ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga menjadi lebih terbatas. Akibatnya, pelaku pasar kembali mengalihkan perhatian ke dolar AS yang berpotensi menguat.
Penguatan Dolar AS Menekan Permintaan Emas Global
Seiring dengan perubahan ekspektasi tersebut, indeks dolar AS melonjak ke level 100,86 dari posisi sebelumnya di angka 99. Penguatan dolar ini berdampak langsung pada harga emas karena logam mulia diperdagangkan menggunakan mata uang tersebut.
Ketika dolar menguat, harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor global. Kondisi ini kemudian menekan permintaan dan mempercepat penurunan harga emas di pasar internasional.
The Fed Menahan Suku Bunga dan Mengubah Ekspektasi Pasar
Dalam pertemuan terbarunya, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50% hingga 3,75%. Keputusan ini menjadi yang kedua kalinya secara berturut-turut tanpa perubahan, di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Selain itu, bank sentral tersebut hanya memberi sinyal satu kali pemangkasan suku bunga sepanjang tahun ini. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan ekspektasi sebelumnya yang memperkirakan dua kali pemangkasan.
Kebijakan tersebut membuat suku bunga tinggi berpotensi bertahan lebih lama, sehingga menambah tekanan terhadap harga emas sebagai aset non-yielding.
Ketegangan Timur Tengah Berpotensi Menahan Penurunan Emas
Di sisi lain, konflik geopolitik di Timur Tengah mulai memberikan sentimen penahan bagi penurunan harga emas. Iran dan Israel terus melancarkan serangan terhadap fasilitas energi strategis di kawasan tersebut.
Situasi ini memicu kekhawatiran pasar global dan berpotensi mendorong aliran dana ke aset safe haven seperti emas. Dengan demikian, meskipun harga sempat jatuh tajam, ketegangan geopolitik masih membuka peluang bagi emas untuk kembali menguat.
