Pergerakan Harga Emas Hari Ini Selasa, 10 Februari 2026 di Pasar Spot

Harga Emas Terkoreksi pada Perdagangan Selasa 10 Februari 2026, Investor Lakukan Profit Taking

Karyawati memperlihatkan kepingan emas Antam di Jakarta, Senin (30/6/2025). Bisnis/Arief Hermawan P

Harga emas melemah pada awal perdagangan Selasa (10/2/2026) setelah mencatat penguatan selama dua hari berturut-turut. Pelaku pasar memanfaatkan reli sebelumnya untuk merealisasikan keuntungan di tengah pergerakan pasar global yang masih fluktuatif.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 06.43 WIB, harga emas di pasar spot turun 0,46% atau 23,47 poin ke level US$5.034,33 per troy ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas Comex Amerika Serikat juga terkoreksi 0,48% atau 24,40 poin menjadi US$5.055 per troy ounce.

Pada sesi awal perdagangan, harga emas sempat merosot hingga 1,4% dan kembali menembus ke bawah level psikologis US$5.000 sebelum memangkas sebagian pelemahannya. Sejak menyentuh rekor tertinggi pada 29 Januari 2026, harga emas tercatat terkoreksi sekitar 10%. Meski begitu, logam mulia ini masih membukukan kinerja positif sejak awal tahun.

Analis Menilai Daya Tahan Emas di Atas US$5.000 Jadi Penentu Tren

Analis Pepperstone Group Ltd. Ahmad Assiri menilai kemampuan emas bertahan di atas level US$5.000 per troy ounce akan menentukan arah pergerakan berikutnya. Ia menyebut level tersebut menjadi ambang penting untuk mengubah reli jangka pendek menjadi tren kenaikan yang lebih solid.

Sehari sebelumnya, Senin (9/2/2026), harga emas melonjak hingga 2,3% seiring kembalinya minat beli investor saat harga melemah. Pelemahan dolar AS turut memperkuat penguatan tersebut.

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek menegaskan bahwa pergerakan emas saat ini sangat dipengaruhi dinamika dolar AS. Ia menyatakan ekspektasi terhadap data ekonomi yang lebih lemah, terutama di sektor tenaga kerja, mendorong tekanan terhadap dolar. Indeks dolar AS tercatat turun 0,84% mendekati level terendah empat bulan di kisaran 96,91.

Pasar Menanti Data Ekonomi AS dan Arah Kebijakan The Fed

Pelaku pasar kini mengarahkan perhatian pada rilis data ekonomi Amerika Serikat yang dijadwalkan akhir pekan ini. Data ketenagakerjaan Januari yang dirilis Rabu diproyeksikan menunjukkan stabilisasi pasar tenaga kerja, sedangkan data inflasi akan menyusul pada Jumat.

Situasi tersebut terjadi setelah Presiden Donald Trump mengusulkan Kevin Warsh sebagai calon pimpinan bank sentral AS Federal Reserve. Pasar menilai perkembangan ini dapat memengaruhi arah kebijakan moneter ke depan.

Memasuki perdagangan siang, tekanan terhadap emas masih berlangsung. Pada pukul 10.50 WIB, harga spot turun 0,58% ke US$5.028,52 per troy ounce. Sementara itu, pada pukul 14.12 WIB, harga melemah 0,55% ke US$5.030,15. Namun menjelang penutupan sesi sore pukul 16.23 WIB, pelemahan menyusut menjadi 0,08% ke US$5.053,94 per troy ounce.

Analis Menilai Koreksi Bersifat Teknikal dan Tren Bullish Masih Kuat

Dupoin Futures dalam risetnya menyebut tekanan harga muncul akibat membaiknya sentimen risiko global dan aksi ambil untung. Penguatan indeks saham Amerika Serikat, termasuk S&P 500 yang mendekati rekor tertinggi, mendorong investor mengalihkan dana ke aset berisiko.

Meski demikian, analis Dupoin Futures Andy Nugraha menilai koreksi saat ini bersifat teknikal dan belum mengubah struktur tren utama. Ia menegaskan harga emas masih bergerak di atas rata-rata pergerakan utama sehingga dominasi pembeli tetap terjaga.

Andy memperkirakan harga berpotensi menguat menuju area US$5.232 apabila momentum bullish berlanjut. Namun ia juga mengingatkan potensi koreksi ke area support US$4.841 jika tekanan jual meningkat.

Dari sisi fundamental, dukungan terhadap emas masih terlihat. Bank Rakyat China (PBOC) kembali menambah cadangan emas untuk bulan ke-15 berturut-turut pada Januari menjadi 74,19 juta ons troy murni. Pembelian berkelanjutan ini memperkuat permintaan struktural di tengah ketidakpastian global.

Previous Post Next Post