Harga Buyback Emas Antam Naik Rp579.000 hingga Jumat (30/1)

Harga Buyback Emas Antam Melonjak Rp579.000 pada Periode Awal 2026

Karyawati memperlihatkan kepingan emas Antam di Jakarta, Senin (30/6/2025). Bisnis/Arief Hermawan P

Harga buyback emas Antam terkoreksi pada Jumat, 30 Januari 2026 setelah menyentuh rekor tertinggi

Bisnis.com, Jakarta – Harga buyback emas Antam mencatat kenaikan signifikan sepanjang periode berjalan 2026 meskipun mengalami koreksi pada Jumat (30/1/2026). Data Logam Mulia menunjukkan harga buyback emas Antam turun Rp50.000 menjadi Rp2.939.000 per gram, setelah sehari sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Kendati terkoreksi harian, harga buyback emas Antam tetap mencerminkan tren penguatan yang solid. Sejak awal 2026 hingga akhir Januari, harga buyback telah melonjak Rp579.000 atau setara 24,53%. Kenaikan tersebut menegaskan posisi emas sebagai aset lindung nilai yang terus diburu investor di tengah ketidakpastian global.

Kenaikan harga buyback emas mengikuti dinamika pasar emas global

Pergerakan harga buyback emas Antam sejalan dengan fluktuasi harga emas di pasar internasional. Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat pagi, harga emas spot menguat 0,91% ke level US$5.424,31 per troy ounce. Sebelumnya, harga emas sempat terkoreksi sekitar 5,7% dari posisi tertinggi US$5.595,47 per troy ounce.

Sementara itu, harga emas berjangka Comex AS juga menunjukkan penguatan dengan kenaikan 2,09% ke level US$5.466,80 per troy ounce. Dinamika tersebut turut memengaruhi penetapan harga emas domestik, termasuk harga buyback Antam.

Ketegangan geopolitik dan kebijakan moneter menopang reli emas

Penguatan harga emas sepanjang 2026 tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik global. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait ancaman serangan terhadap Iran serta rencana pengenaan tarif baru terhadap negara pemasok minyak ke Kuba memperburuk sentimen pasar.

Selain itu, kebijakan moneter juga memainkan peran penting. Trump kembali menegaskan keinginannya agar pimpinan Federal Reserve berikutnya menurunkan suku bunga. Harapan terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar mendorong minat investor pada emas, yang dikenal tidak memberikan imbal hasil tetapi kuat sebagai aset safe haven.

Analis menilai tren struktural emas tetap kuat meski rawan koreksi

CEO Mind Money Julia Khandoshko menilai harga emas berpotensi mengalami koreksi jangka pendek, namun tren jangka panjang tetap terjaga. Ia menyoroti percepatan de-dolarisasi global, permintaan kuat dari negara berkembang, serta ekspansi moneter yang berkelanjutan sebagai faktor pendukung utama.

Di sisi lain, ketidakpastian terkait keberlanjutan utang Amerika Serikat dan tekanan terhadap independensi Federal Reserve semakin memperkuat daya tarik emas. Permintaan yang tetap tinggi dari China juga turut menopang reli harga, meskipun harga emas terus mencetak rekor baru di pasar global.

Previous Post Next Post