Harga Buyback Emas Antam Masih Sideways Hari Ini Kamis (12/2)

Harga Buyback Emas Antam Bertahan di Rp2,741 Juta per Gram pada Kamis 12 Februari 2026

Harga buyback emas PT Aneka Tambang Tbk. tetap bergerak mendatar hingga Kamis, 12 Februari 2026. Tren sideways yang berlangsung sejak awal bulan masih berlanjut seiring tekanan harga emas global.

Berdasarkan data Logam Mulia pada Kamis (12/2/2026), harga pembelian kembali atau buyback emas Antam ukuran 1 gram bertahan di Rp2.741.000. Angka tersebut tidak berubah dibandingkan posisi hari sebelumnya.

Sejak awal Februari 2026, harga buyback emas Antam bergerak di rentang Rp2.600.000 hingga Rp2.700.000 per gram. Level ini masih berada di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang sempat menyentuh Rp2.989.000 pada Januari 2026.

Antam Tetapkan Skema Pajak Buyback Sesuai PMK 34 Tahun 2017

Antam menerapkan ketentuan pajak sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 34/PMK.10/2017 dalam setiap transaksi buyback. Penjualan kembali emas batangan dengan nilai di atas Rp10 juta dikenai PPh Pasal 22 sebesar 1,5 persen bagi pemegang NPWP dan 3 persen bagi non-NPWP.

Antam memotong langsung pajak tersebut dari total nilai buyback. Skema ini membuat investor perlu menghitung selisih harga jual dan harga beli kembali secara cermat sebelum melakukan transaksi.

Buyback emas sendiri merupakan aktivitas menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, batangan, maupun perhiasan. Harga buyback umumnya lebih rendah dari harga jual pada hari yang sama. Namun, investor tetap berpeluang meraih keuntungan apabila selisih harga cukup lebar.

Data Tenaga Kerja AS Tekan Harga Emas Global

Pergerakan harga buyback Antam mengikuti dinamika emas dunia. Pada Kamis (12/2/2026), data Bloomberg menunjukkan harga emas spot turun 0,39 persen ke US$5.064,36 per troy ounce. Sementara itu, harga emas Comex melemah 0,23 persen ke US$5.086,90 per troy ounce.

Tekanan muncul setelah Amerika Serikat melaporkan lonjakan payroll terbesar dalam lebih dari setahun, sementara tingkat pengangguran justru turun pada Januari. Data tersebut memperkuat sinyal stabilitas pasar tenaga kerja pada awal 2026.

Kondisi itu mendorong pelaku pasar memundurkan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dari Juni menjadi Juli. Suku bunga yang lebih rendah biasanya mendukung harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.

Sebelumnya, harga emas sempat melonjak ke atas US$5.595 per troy ounce pada akhir Januari. Namun, aksi beli spekulatif memicu koreksi tajam hingga sekitar 13 persen hanya dalam dua sesi perdagangan.

Meski demikian, sejumlah bank global masih mempertahankan proyeksi positif. BNP Paribas SA memperkirakan harga emas berpotensi menembus US$6.000 per troy ounce pada akhir tahun. Deutsche Bank AG dan Goldman Sachs Group Inc. juga melihat peluang penguatan lanjutan di tengah ketegangan geopolitik dan pergeseran investasi global.

Previous Post Next Post