3 Faktor yang Diprediksi Bikin Harga Emas Terus Melejit
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Ketidakpastian Global Mendorong Harga Emas Terus Menguat di Awal 2026

Ketegangan geopolitik global meningkatkan minat investor terhadap emas
Jakarta — Harga emas diproyeksikan terus melanjutkan tren penguatan seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Sepanjang awal 2026, pergerakan harga emas menunjukkan reli kuat meskipun sempat terkoreksi tipis setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk merebut Greenland dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Pernyataan tersebut sempat meredakan sentimen risk-off pasar, namun tidak mengubah arah utama pergerakan emas.
Analis pasar Jim Wyckoff, mengutip Barchart, menilai tekanan geopolitik global masih sangat aktif dan berpotensi berlangsung lama. Kondisi ini mendorong investor global terus memburu emas dan perak sebagai aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik internasional.
Persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok memicu permintaan emas sebagai safe haven
Persaingan strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok menjadi faktor utama yang menopang lonjakan permintaan emas. Kedua negara terus bersaing untuk dominasi global, baik dari sisi ekonomi maupun militer. Eskalasi rivalitas tersebut menciptakan ketidakpastian jangka panjang yang membuat investor mencari perlindungan pada aset berisiko rendah seperti emas.
Wyckoff menilai situasi geopolitik ini kecil kemungkinan mereda dalam waktu dekat. Selama ketegangan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia itu berlanjut, emas akan tetap mendapatkan dukungan kuat dari arus investasi global.
Ambisi AS terhadap Greenland memperlebar risiko konflik geopolitik
Rencana Amerika Serikat untuk memperluas pengaruhnya di Greenland turut menambah ketegangan geopolitik dunia. Sikap agresif Washington dinilai dapat membuka ruang bagi Tiongkok untuk meningkatkan tekanan terhadap Taiwan. Dalam beberapa bulan terakhir, kebijakan luar negeri AS juga terlihat semakin ofensif, termasuk langkah militer di Venezuela dan Iran.
Para analis menilai Tiongkok berpotensi merespons dengan pendekatan serupa guna menyeimbangkan pengaruh AS. Jika eskalasi ini berkembang menjadi konflik terbuka, pasar memperkirakan permintaan emas akan melonjak lebih tinggi sebagai respons atas meningkatnya risiko global.
De-dolarisasi dan akumulasi cadangan memperkuat prospek emas
Faktor lain yang menopang reli harga emas berasal dari langkah negara-negara BRICS yang mendorong de-dolarisasi perdagangan internasional. Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan mulai mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan meningkatkan pembelian emas untuk cadangan devisa.
Di saat yang sama, dorongan ekonomi global untuk menimbun mineral strategis turut meningkatkan permintaan logam mulia. Laporan Bloomberg mencatat tingginya permintaan ritel terhadap perak telah memicu kelangkaan pasokan global. Kombinasi de-dolarisasi, ketidakpastian geopolitik, dan tingginya permintaan fisik membuat prospek harga emas tetap kuat sepanjang 2026.
