BI Pastikan Harga Emas Melambung Tak Bebani Target Inflasi
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Bank Indonesia Pastikan Lonjakan Harga Emas Tak Ganggu Target Inflasi 2026

Bank Indonesia memastikan lonjakan harga emas tidak akan menghambat pencapaian sasaran inflasi nasional tahun ini. Otoritas moneter menilai kenaikan harga logam mulia memang memberi dampak terhadap Indeks Harga Konsumen, namun pengaruhnya masih terkendali.
Harga emas dunia menutup perdagangan pekan lalu di level US$4.400 per troy ons. Sepanjang 2025, harga emas melonjak sekitar 64% dari posisi US$1.700 per troy ons dan mencatat level tertinggi sejak 1979. Kenaikan tajam ini turut mendorong harga emas domestik ke kisaran Rp2.900.000 hingga Rp3.100.000 per gram.
Juli Budi Winantya Jelaskan Dampak Harga Emas terhadap Inflasi di Pontianak
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Juli Budi Winantya, menegaskan kenaikan harga emas di dalam negeri mengikuti pergerakan harga global. Ia menjelaskan bahwa komponen emas perhiasan dalam Indeks Harga Konsumen dipengaruhi harga emas batangan sebagai acuan utama.
Dalam Editor’s Briefing di Pontianak, Kalimantan Barat, yang dikutip pada Senin, 9 Februari 2026, Juli menyatakan kenaikan harga emas memang memberi kontribusi terhadap inflasi. Meski demikian, ia memastikan kondisi tersebut belum mengganggu target inflasi yang dipatok sebesar 2,5% plus minus 1%.
Ia menegaskan Bank Indonesia terus memantau dinamika harga dan menjaga stabilitas agar tekanan inflasi tetap terkendali. Menurutnya, pengaruh emas terhadap inflasi masih berada dalam batas yang dapat diantisipasi.
BPS Catat Emas Sumbang Inflasi dan BI Tegaskan Strategi Cadangan Devisa
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan emas menyumbang inflasi selama 11 bulan sepanjang 2025. Secara kumulatif, inflasi year to date hingga Desember 2025 tercatat sebesar 2,92%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2021 hingga 2024, kecuali tahun 2022.
Di tengah fenomena global pembelian emas oleh berbagai bank sentral, Juli menyebut langkah tersebut merupakan bagian dari strategi pengelolaan cadangan devisa. Ia menjelaskan setiap bank sentral memiliki kebijakan internal terkait komposisi cadangan, termasuk porsi emas dan mata uang asing.
Namun demikian, ia tidak membeberkan secara rinci komposisi kepemilikan emas dalam cadangan devisa Bank Indonesia. Bank Indonesia tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan ketahanan eksternal di tengah dinamika pasar global.
