Harga Emas Global Ambles: Rekor Terlemah Sejak 2013, Ini Pemicunya

Harga Emas Global Anjlok Tajam pada Maret 2026 hingga Sentuh Level Terendah Sejak 2013

Karyawati memperlihatkan kepingan emas Antam di Jakarta, Senin (30/6/2025). Bisnis/Arief Hermawan P

JAKARTA — Harga emas global mengalami penurunan signifikan sepanjang Maret 2026 dan mencatat kinerja bulanan terburuk dalam lebih dari satu dekade. Dalam periode tersebut, harga emas merosot hingga 12% dan menyentuh level US$4.608 per troy ounce. Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak Juni 2013.

Laporan terbaru dari World Gold Council (WGC) mengungkapkan bahwa pelemahan harga emas terjadi secara luas terhadap berbagai mata uang utama. Meski demikian, secara tahunan harga emas masih mencatat pertumbuhan positif, yang menunjukkan bahwa tekanan hanya terjadi dalam jangka pendek.

Arus Keluar ETF Global Memicu Tekanan Besar pada Harga Emas

WGC menjelaskan bahwa faktor utama yang mendorong penurunan harga berasal dari arus keluar dana besar-besaran dari ETF emas global. Sepanjang Maret 2026, dana yang keluar mencapai US$12 miliar atau setara dengan 84 ton emas.

Amerika Utara menjadi kontributor terbesar dalam arus keluar tersebut dengan nilai mencapai US$14 miliar atau setara 87 ton. Sementara itu, Eropa juga mencatat arus keluar meski dalam jumlah lebih kecil, yakni sekitar US$0,1 miliar atau setara 7 ton.

Selain itu, model analisis WGC menunjukkan bahwa momentum negatif dan aksi pelepasan posisi beli di pasar berjangka turut memperparah tekanan terhadap harga emas.

Investor Asia Memanfaatkan Koreksi Harga untuk Melakukan Aksi Beli

Di tengah tekanan jual di kawasan Barat, investor di Asia justru mengambil langkah berbeda. Mereka memanfaatkan penurunan harga sebagai peluang untuk membeli emas di level yang lebih rendah.

WGC mencatat arus masuk dana di kawasan Asia mencapai US$1,9 miliar. Meskipun nilainya lebih kecil dibandingkan arus keluar global, aliran dana ini tetap menjadi penopang penting di tengah tekanan pasar.

Fenomena ini menunjukkan bahwa minat terhadap emas di Asia tetap kuat, terutama saat harga mengalami koreksi tajam.

Posisi Investor di Pasar Derivatif Turut Melemah dan Memicu Tekanan Lanjutan

Selain ETF, tekanan juga datang dari pasar derivatif. Posisi beli bersih investor di bursa berjangka COMEX tercatat menyusut sekitar US$2 miliar atau setara 19 ton emas.

Kondisi ini mencerminkan adanya aksi ambil untung serta pembalikan tren setelah sebelumnya harga emas mengalami kenaikan. Meski demikian, WGC menilai investor masih mempertahankan kecenderungan beli untuk jangka panjang.

Penguatan Dolar AS dan Kenaikan Imbal Hasil Obligasi Tekan Daya Tarik Emas

Di sisi lain, faktor makroekonomi turut memberikan tekanan tambahan. Penguatan dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi global membuat emas menjadi kurang menarik bagi investor.

Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter global juga memengaruhi arus modal dan meningkatkan volatilitas harga emas. WGC menilai kondisi ini menunjukkan sensitivitas tinggi harga emas terhadap dinamika pasar keuangan global.

Previous Post Next Post