Kala Harga Emas Gagal Dirayakan saat Lebaran

Harga Emas Gagal Bersinar Jelang Lebaran 2026 Meski Sempat Melesat Tinggi

Pramuniaga menata emas batangan Galeri24 di salah satu toko emas perhiasan di Cikini, Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Lonjakan Harga Emas Sepanjang 2025 Mendorong Antusiasme Masyarakat

Harga emas yang melonjak tajam sepanjang tahun 2025 sempat memicu euforia di kalangan masyarakat. Kenaikan signifikan tersebut membuat banyak orang berlomba-lomba membeli dan mengoleksi logam mulia sebagai instrumen investasi.

Di berbagai gerai penjualan emas, antrean pembeli pun sempat terlihat padat. Optimisme semakin menguat setelah muncul prediksi bahwa harga emas berpotensi mencetak rekor baru saat Lebaran 2026.

Harga Emas Justru Turun dan Menjauh dari Level Rp3 Juta per Gram

Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan arah berbeda. Menjelang Lebaran 2026, harga emas justru mengalami koreksi dan turun dari level Rp3 juta per gram.

Padahal sebelumnya, Pengamat Komoditas Ibrahim Assuaibi pada Januari lalu memperkirakan harga emas berpeluang menembus Rp3,2 juta per gram. Ia bahkan menilai pencapaian tersebut cukup mudah jika harga emas dunia mencapai US$5.100 per troy ounce dalam waktu dekat.

Harga Emas Dunia Terkoreksi Setelah Sempat Cetak Rekor Tinggi

Harga emas global memang sempat mencatatkan kinerja gemilang. Sepanjang 2025, harga emas naik hingga 64 persen dan menjadi performa terbaik sejak 1979. Bahkan pada Januari 2026, harga emas dunia sempat menyentuh US$5.000 per troy ounce untuk pertama kalinya.

Namun, tren tersebut tidak bertahan lama. Pada Jumat pekan lalu, harga emas turun hingga di bawah US$4.500 per troy ounce, menghapus sebagian besar kenaikan yang terjadi dalam dua bulan terakhir.

Gejolak Pasar Global Menekan Harga Emas Secara Signifikan

Penurunan harga emas kali ini terjadi di tengah gejolak pasar keuangan global. Pelemahan saham dan obligasi di Amerika Serikat serta lonjakan harga minyak turut memperburuk sentimen pasar.

Koreksi ini bahkan tercatat sebagai penurunan mingguan terburuk dalam beberapa dekade. Dalam satu hari, harga emas turun sekitar 2 persen, sementara secara mingguan anjlok lebih dari 10 persen, menjadikannya kinerja terburuk sejak awal 1980-an.

Investor Mengalihkan Dana ke Aset Berimbal Hasil Lebih Tinggi

Di tengah konflik geopolitik yang melibatkan Iran, harga energi melonjak tajam dan memicu kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini mendorong bank sentral di berbagai negara untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Situasi tersebut membuat emas kehilangan daya tariknya sebagai aset safe haven. Sebab, emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau deposito. Akibatnya, sebagian investor mulai mengalihkan dana mereka ke instrumen yang menawarkan keuntungan lebih pasti.

Analis Menilai Momentum Kenaikan Emas Mulai Melemah

Sejumlah analis menilai bahwa momentum kenaikan emas telah meredup. Strategis dari bank Belanda ING menyebut investor kini cenderung menjual emas untuk memperoleh likuiditas atau menyeimbangkan portofolio mereka.

Di sisi lain, harga minyak dunia yang menembus US$112 per barel semakin memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi. Pasar pun masih berupaya menilai dampak konflik Timur Tengah terhadap kebijakan suku bunga dan stabilitas ekonomi global.

Selama ketidakpastian ini masih berlangsung, analis memperkirakan volatilitas di pasar emas dan aset keuangan lainnya akan tetap tinggi.

Previous Post Next Post