Harga Emas Berbalik Naik, Harapan Gencatan Senjata AS-Iran Redakan Tekanan
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Harga Emas Melonjak Lebih dari 2 Persen pada 25 Maret 2026 Seiring Harapan Damai AS-Iran

Pasar Mendorong Harga Emas Naik Setelah Sinyal Gencatan Senjata Menguat
Harga emas berbalik menguat pada Rabu, 25 Maret 2026, setelah pasar merespons positif perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan ini mengakhiri tren penurunan yang berlangsung selama sembilan sesi berturut-turut.
Mengacu pada data Trading Economics, harga emas melonjak lebih dari 2 persen dan mendekati level US$4.600. Penguatan ini berlanjut dari sesi sebelumnya, didorong oleh optimisme bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran segera mereda.
Selain itu, laporan media internasional menyebutkan bahwa Washington tengah mengupayakan jalur diplomatik dengan Teheran. Upaya tersebut memicu harapan pasar terhadap tercapainya gencatan senjata dalam waktu dekat.
Pemerintah AS Mengupayakan Diplomasi Sambil Menjaga Tekanan Militer
Pemerintah Amerika Serikat terus mendorong skenario gencatan senjata untuk membuka ruang negosiasi. Media Israel melaporkan bahwa AS mengusulkan jeda konflik selama satu bulan guna mempercepat pembicaraan damai.
Di saat yang sama, New York Times mengungkap bahwa Washington telah mengajukan proposal berisi 15 poin kepada Iran. Langkah ini menunjukkan keseriusan AS dalam mencari solusi diplomatik atas konflik yang berkepanjangan.
Namun demikian, Presiden Donald Trump tetap memerintahkan pengerahan sekitar 2.000 pasukan ke kawasan tersebut. Kebijakan ini mencerminkan strategi ganda yang menggabungkan pendekatan diplomasi dan tekanan militer.
Pelaku Pasar Menghadapi Tekanan Inflasi dan Kebijakan Suku Bunga
Sebelum mengalami rebound, harga emas sempat tertekan hingga 25 persen dari level tertinggi pada Maret. Tekanan ini muncul akibat lonjakan harga energi yang meningkatkan risiko inflasi global.
Kondisi tersebut mendorong ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Gubernur Federal Reserve Michael Barr menegaskan bahwa kebijakan moneter ketat masih diperlukan untuk mengendalikan inflasi.
Selain itu, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi turut menekan harga emas. Situasi ini membuat logam mulia kurang menarik karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen lainnya.
Investor Menyesuaikan Strategi di Tengah Volatilitas Pasar Global
Pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh aksi jual investor yang membutuhkan likuiditas di tengah pelemahan pasar saham dan obligasi. Tekanan ini sempat membawa emas mendekati fase bearish dalam beberapa waktu terakhir.
Di sisi lain, analis Buffalo Bayou Commodities, Frank Monkam, menilai bahwa pengurangan utang investor ritel dan penjualan oleh pelaku pasar negara berkembang turut memperdalam tekanan harga. Bahkan, beberapa bank sentral menjual emas untuk memperkuat cadangan devisa di tengah lonjakan harga energi.
Sementara itu, laporan Bloomberg menyebut bank sentral Turki mempertimbangkan skema swap emas dengan valuta asing di pasar London untuk menjaga stabilitas mata uangnya.
Hingga Rabu pukul 12.15 WIB, harga emas spot tercatat naik 2,14 persen ke level US$4.571,18 per ons. Kenaikan juga terjadi pada perak, platinum, dan paladium, sementara Indeks Spot Dolar Bloomberg melemah 0,08 persen.
