Ini Alasan Harga Emas Turun Saat Perang Iran vs AS

Pelemahan Harga Emas Terjadi di Tengah Konflik Iran dan Amerika Serikat

Pegawai menunjukan emas batangan di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Rabu (2/8/2023). Bisnis/Himawan L Nugraha

Pasar Menggeser Fokus dari Geopolitik ke Faktor Fundamental Ekonomi

Harga emas sempat melonjak saat konflik Iran dan Amerika Serikat memanas pada akhir Februari 2026. Namun, tren tersebut tidak bertahan lama karena harga logam mulia justru melemah dalam beberapa pekan berikutnya.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar tidak hanya merespons risiko geopolitik, tetapi juga mempertimbangkan faktor fundamental ekonomi global. Pada awal konflik, investor langsung mencari aset aman sehingga harga emas naik tajam. Meski begitu, perubahan ekspektasi ekonomi segera mengubah arah pergerakan tersebut.

Lonjakan Harga Energi Mendorong Ekspektasi Inflasi Global

Kenaikan harga energi akibat konflik memicu kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini membuat pelaku pasar memperkirakan bank sentral, khususnya Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Menurut Mark Haefele dari UBS Global Wealth Management, situasi tersebut meningkatkan imbal hasil riil yang secara historis menekan harga emas. Karena emas tidak memberikan imbal hasil, investor mulai beralih ke instrumen lain yang lebih menguntungkan dalam kondisi suku bunga tinggi.

Penguatan Dolar AS Menekan Daya Tarik Emas di Pasar Global

Selain faktor suku bunga, penguatan dolar Amerika Serikat turut memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas. Dalam kondisi krisis global, dolar AS sering menguat sebagai aset safe haven utama.

Kombinasi antara imbal hasil riil yang tinggi dan dolar yang kuat membuat emas menjadi kurang menarik. Akibatnya, harga emas tidak mampu mempertahankan kenaikan meskipun ketegangan geopolitik masih berlangsung.

Investor Merealisasikan Keuntungan Setelah Reli Panjang Emas

Pelaku pasar juga memanfaatkan volatilitas untuk merealisasikan keuntungan setelah harga emas mencatat kenaikan signifikan sepanjang 2025. Aksi ambil untung ini semakin membatasi ruang kenaikan harga dalam jangka pendek.

Selain itu, kebutuhan likuiditas di tengah ketidakpastian global turut mendorong investor melepas sebagian kepemilikan emas mereka. Situasi ini mempercepat tekanan penurunan harga dalam beberapa pekan terakhir.

Analis Tetap Melihat Prospek Positif Emas dalam Jangka Panjang

Meskipun harga emas melemah dalam jangka pendek, sejumlah analis tetap optimistis terhadap prospeknya. Daniel Marburger, CEO StoneX Bullion, menilai harga emas masih berpotensi naik meskipun akan bergerak fluktuatif.

Ia menekankan bahwa faktor seperti imbal hasil riil, kekuatan dolar AS, perkembangan konflik geopolitik, dan permintaan bank sentral akan menentukan arah harga ke depan. Beberapa lembaga keuangan global bahkan memproyeksikan harga emas dapat mencapai sekitar US$6.000 hingga US$6.200 per ons pada akhir 2026.

Dalam konteks investasi, analis menyarankan investor untuk menempatkan emas sebagai aset lindung nilai jangka panjang. Alokasi sekitar 10 hingga 15 persen dalam portofolio dinilai mampu menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Previous Post Next Post