Harga Emas Meroket, Batu Permata jadi Investasi Pilihan Tahun 2026

Lonjakan Harga Emas Mendorong Investor Beralih ke Batu Permata pada 2026

Warga menunjukan emas logam mulia di Jakarta, Minggu (10/8/2025). Bisnis/Himawan L Nugraha

Investor Global Mengalihkan Minat ke Perhiasan Mewah sebagai Aset Alternatif

Lonjakan harga emas di tengah ketidakpastian global mendorong investor kelas atas mengalihkan perhatian ke perhiasan mewah. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan logam mulia, tetapi juga mulai mengoleksi batu permata berwarna seperti rubi, safir, dan zamrud sebagai instrumen investasi.

Perubahan tren ini terlihat jelas di pasar lelang internasional. Sebuah kalung keluaran Tiffany & Co. dengan batu tourmaline Paraiba langka dan berlian berhasil terjual lebih dari US$4,2 juta di rumah lelang Christie’s. Nilai tersebut melonjak hingga sekitar sepuluh kali lipat dari estimasi awal, sekaligus menegaskan daya tarik perhiasan sebagai aset bernilai tinggi.

Ketidakpastian Ekonomi Mendorong Permintaan Aset Berwujud

Kondisi ekonomi global yang tidak stabil membuat investor cenderung mencari aset berwujud yang mampu menjaga nilai dalam jangka panjang. Dalam situasi ini, perhiasan mewah menjadi pilihan karena memiliki kombinasi nilai estetika dan nilai material.

Selain itu, merek-merek ternama seperti Cartier, Van Cleef & Arpels, Tiffany & Co., dan Bulgari terus mendominasi pasar sekunder. Produk dari brand tersebut bahkan menguasai sekitar 90 persen transaksi jual kembali, sehingga memperkuat kepercayaan investor terhadap likuiditasnya.

Berbeda dengan produk fesyen lain yang mengikuti tren musiman, perhiasan ikonik memiliki umur panjang dan cenderung mengalami kenaikan harga secara konsisten. Dalam banyak kasus, kolektor mampu menjual kembali perhiasan setelah lima hingga sepuluh tahun dengan harga lebih tinggi dari harga beli.

Kenaikan Harga Emas Memperkuat Daya Tarik Investasi Perhiasan

Harga emas yang sempat menembus level di atas US$5.100 per ons turut memperkuat tren investasi di sektor perhiasan. Meskipun harga mengalami koreksi, levelnya tetap tinggi sehingga menjaga nilai dasar perhiasan berbahan emas.

Kondisi ini tidak hanya menarik pembeli baru, tetapi juga mendorong kolektor lama untuk melepas aset mereka. Akibatnya, pasar menjadi lebih dinamis dengan meningkatnya transaksi di berbagai segmen perhiasan.

Batu Permata Berwarna Mengalami Lonjakan Permintaan di Pasar Global

Di antara berbagai jenis perhiasan, batu permata berwarna mencatat pertumbuhan paling signifikan. Permintaan terhadap rubi, safir, dan zamrud terus meningkat karena faktor kelangkaan dan keunikan masing-masing batu.

Tidak seperti berlian yang dapat diproduksi di laboratorium, batu permata berwarna berkualitas tinggi sulit direplikasi. Karakter alami seperti inklusi justru menjadi nilai tambah yang meningkatkan harga jual di pasar kolektor.

Di rumah lelang besar seperti Christie’s, batu permata berwarna kerap terjual hingga dua hingga tiga kali lipat dari estimasi tertinggi. Tren ini semakin kuat seiring pengaruh budaya populer, di mana sejumlah selebritas memilih batu permata berwarna untuk cincin pertunangan.

Saat ini, sekitar 15 persen cincin pertunangan menggunakan batu permata berwarna, meningkat tajam dibandingkan hanya 5 persen satu dekade lalu. Kenaikan ini menunjukkan perubahan preferensi pasar sekaligus mempertegas posisi batu permata sebagai aset investasi baru.

Previous Post Next Post