Analis Proyeksikan Harga Emas Bakal Alami Koreksi Terparah dalam Enam Tahun

Analis Memproyeksikan Harga Emas Mengalami Koreksi Terparah dalam Enam Tahun

Karyawan menunjukkan emas logam mulia di Butik Emas Antam di Jakarta, Rabu (29/10/2025)./JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Harga Emas Global Turun Tajam Sepanjang Pekan

Harga emas menunjukkan tekanan signifikan pada perdagangan akhir pekan seiring meningkatnya gejolak global. Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat, 20 Maret 2026, harga emas berada di kisaran US$4.685 per troy ounce pada awal perdagangan.

Sepanjang pekan ini, harga logam mulia tersebut tercatat merosot hampir 7%. Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak Maret 2020 dan menandai potensi koreksi mingguan terbesar dalam enam tahun terakhir.

Konflik Timur Tengah Mendorong Lonjakan Harga Energi

Tekanan terhadap harga emas semakin kuat setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan harga minyak mentah dan gas. Kenaikan harga energi tersebut meningkatkan kekhawatiran inflasi global.

Kondisi ini membuat pelaku pasar memperkirakan bank sentral akan menunda penurunan suku bunga. Akibatnya, emas kehilangan daya tarik karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.

Penguatan Dolar AS dan Imbal Hasil Obligasi Menekan Emas

Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat turut memperburuk tekanan terhadap emas. Investor mulai mengalihkan dana ke aset yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.

Di saat yang sama, pelaku pasar juga melakukan aksi jual emas untuk menutup kerugian di instrumen lain. Arus keluar dari exchange-traded fund berbasis emas semakin memperdalam koreksi harga.

Analis Menilai Volatilitas Tinggi Masih Membatasi Pergerakan

Analis pasar independen Robert Gottlieb menilai volatilitas yang tinggi masih menjadi tantangan utama bagi pergerakan harga emas. Ia menegaskan bahwa tekanan jual masih berpotensi berlanjut selama harga belum menunjukkan stabilitas.

Ia juga mengingatkan bahwa investor sebaiknya menunggu hingga kondisi pasar lebih terkonsolidasi sebelum kembali masuk. Pernyataan ini mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar dalam menghadapi fluktuasi tajam.

Kebijakan The Fed Menahan Suku Bunga Memperkuat Tekanan

Di sisi lain, Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan terbarunya. Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa pelonggaran kebijakan hanya akan dilakukan jika inflasi menunjukkan penurunan yang konsisten.

Kebijakan tersebut memperkuat tekanan terhadap emas, karena suku bunga tinggi meningkatkan daya tarik aset berbunga. Kondisi ini mengingatkan pada pola tahun 2022 saat konflik Rusia dan Ukraina memicu gejolak energi global.

Harga Emas Masih Mencatat Kenaikan Tahunan Meski Terkoreksi

Meski mengalami tekanan dalam jangka pendek, harga emas masih mencatat kenaikan sekitar 8% sepanjang 2026. Sebelumnya, harga sempat mencapai rekor mendekati US$5.600 per ons pada akhir Januari.

Reli tersebut didorong oleh tingginya permintaan investor, pembelian oleh bank sentral, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Namun, kondisi saat ini menunjukkan pasar mulai memasuki fase koreksi yang lebih dalam.

Previous Post Next Post