Harga Emas Spot Anjlok Tujuh Sesi Beruntun Jelang Lebaran 2026, Cek Biang Keroknya
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Harga Emas Spot Turun Tujuh Sesi Beruntun Menjelang Lebaran 2026
Pasar Mencatat Penurunan Harga Emas Hingga 3,7 Persen dalam Sepekan
Harga emas di pasar spot terus melemah dan mencatat penurunan selama tujuh sesi berturut-turut menjelang Lebaran 2026. Data Bloomberg pada Jumat, 20 Maret 2026, menunjukkan harga emas spot turun 3,7% menjadi US$4.641,46 per ons pada Kamis, 19 Maret 2026, pukul 15.37 waktu New York.
Penurunan ini bahkan sempat mencapai 6,6% dalam periode yang sama, menjadikannya tren pelemahan terpanjang sejak 2023. Kondisi tersebut menandai tekanan kuat pada harga emas setelah sebelumnya mengalami kenaikan signifikan.
Konflik Iran Mendorong Lonjakan Energi dan Menekan Emas
Selanjutnya, pasar mencatat bahwa konflik yang melibatkan Iran memicu kenaikan harga minyak mentah dan gas. Lonjakan harga energi tersebut meningkatkan risiko inflasi global sekaligus mengubah ekspektasi kebijakan moneter.
Kenaikan inflasi membuat peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dan bank sentral lainnya semakin kecil. Akibatnya, emas kehilangan daya tarik karena investor mulai mempertimbangkan instrumen lain yang lebih menguntungkan dalam kondisi suku bunga tinggi.
Analis Menjelaskan Peran Suku Bunga dan Harga Minyak
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menegaskan bahwa pergerakan emas saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika suku bunga dan harga energi. Ia menyebut pasar menghadapi kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi yang disertai tekanan inflasi.
Seiring dengan itu, bank sentral memilih mempertahankan kebijakan moneter ketat. Kondisi ini membuat biaya peluang memegang emas meningkat, sehingga menekan minat investor terhadap logam mulia.
Investor Mengalihkan Dana dan Mencari Likuiditas
Di tengah ketidakpastian pasar, sejumlah investor mulai menjual emas untuk mendapatkan likuiditas. Aksi ini turut memperdalam penurunan harga dalam beberapa sesi terakhir.
Dampaknya, saham perusahaan tambang emas ikut melemah. Bahkan, VanEck Gold Miners ETF sebagai salah satu ETF terbesar di sektor ini menghapus seluruh kenaikan yang sempat tercatat sejak awal tahun 2026.
Investor Menggeser Portofolio ke Sektor Energi
Sementara itu, Kepala Global Emas dan Logam State Street Investment Management, Aakash Doshi, menjelaskan bahwa sebagian investor menarik dana dari emas. Mereka kemudian mengalihkan investasi ke instrumen yang berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga energi.
Perpindahan dana ini memperlihatkan perubahan strategi investor dalam merespons kondisi pasar global yang dipengaruhi konflik geopolitik dan fluktuasi harga komoditas.
