Proyeksi Harga Emas Setahun, Berpeluang Capai US$6.250 per Ons

Analis Proyeksikan Harga Emas Global Melonjak hingga US$6.250 per Ons dalam Setahun

Pegawai melayani pengunjung memilih emas 24 karat di kantor Antam, Jakarta, Senin (25/7/2022). Secara fundamental, faktor geopolitik dan kondisi makroekonomi global dinilai masih mendukung pergerakan emas sebagai aset lindung nilai. /Bisnis-Himawan L Nugraha

Analis Menilai Faktor Geopolitik dan Makroekonomi Terus Mendorong Emas

Analis pasar memproyeksikan harga emas global berpotensi naik signifikan dalam satu tahun ke depan. Mereka memperkirakan harga logam mulia itu bisa menembus kisaran US$5.500 hingga US$6.250 per ons, didorong oleh ketegangan geopolitik dan kondisi makroekonomi global yang belum stabil.

Saat ini, harga emas sempat mengalami tekanan. Data perdagangan menunjukkan harga emas spot turun ke sekitar US$4.853 per ons, sementara emas Comex berada di level US$4.861 per ons. Penurunan ini terjadi setelah harga sempat melemah hampir 3% pada perdagangan pertengahan Maret 2026. Meski begitu, analis menilai koreksi tersebut hanya bersifat sementara.

Pasar Mengantisipasi Konflik dan Kebijakan Suku Bunga

Selanjutnya, analis melihat potensi kenaikan harga emas tetap terbuka lebar, terutama jika tensi geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga.

Namun, pergerakan emas tidak selalu sejalan dengan ekspektasi. Sejak konflik memanas, harga emas justru tercatat turun sekitar 7%. Penguatan dolar AS, ketidakpastian arah suku bunga, serta aksi ambil untung setelah reli panjang menjadi penyebab utama tekanan tersebut.

Pelemahan Dolar AS Diperkirakan Mengangkat Harga Emas

Di sisi lain, pasar memproyeksikan dolar AS akan kembali melemah sekitar 3% pada 2026. Kondisi ini berpotensi menjadi katalis positif bagi emas karena membuat logam mulia lebih menarik bagi investor global.

Selain itu, ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve turut memperkuat prospek emas. Ketika suku bunga turun, imbal hasil obligasi ikut menurun sehingga biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah. Akibatnya, permintaan terhadap emas cenderung meningkat.

Aliran Dana ETF Menunjukkan Minat Investor Tetap Kuat

Lebih lanjut, minat investor terhadap emas terlihat dari arus dana ke instrumen berbasis emas. ETF emas di Amerika Serikat mencatat inflow sebesar US$10,5 miliar sepanjang dua bulan pertama 2026, meningkat 67% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski demikian, porsi emas dalam total aset ETF dan reksa dana global masih di bawah 1%. Hal ini menunjukkan bahwa ruang kenaikan permintaan masih terbuka.

Survei Investor Mengungkap Perbedaan Pandangan Pasar

Sementara itu, survei Bank of America menunjukkan pandangan yang beragam di kalangan investor. Sebanyak 35% manajer investasi menilai posisi beli emas menjadi transaksi paling ramai saat ini. Di sisi lain, 38% responden menganggap harga emas sudah terlalu tinggi.

Perbedaan pandangan ini menjelaskan mengapa pergerakan harga emas cenderung terbatas dalam jangka pendek. Namun secara keseluruhan, faktor fundamental masih mendukung tren kenaikan dalam jangka menengah hingga panjang.

Previous Post Next Post