Harga Emas Naik Turun Secara Drastis, Mental Pembeli Emas Diuji
- Ratna Dewi
- 0
- Posted on
Harga Emas Bergerak Naik Turun Tajam dan Menguji Mental Pembeli

Pasar Mengangkat Harga Emas Meski Data Tenaga Kerja AS Tetap Kuat
Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas dunia kembali bergerak fluktuatif dan menguji ketahanan psikologis pelaku pasar. Pada perdagangan Rabu, 11 Februari 2026, harga emas global menguat lebih dari 1% meskipun data tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan hasil yang solid. Kondisi ini menegaskan bahwa minat beli emas jangka panjang masih bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Emas dunia tercatat naik 1,11% ke level US$5.078,50 per troy ons. Kenaikan tersebut terjadi setelah harga emas sempat terkoreksi 0,8% pada perdagangan Selasa. Walau menguat, pergerakan emas secara tren jangka pendek masih bergerak di area sideway, menandakan pasar belum menemukan arah yang benar-benar kuat.
Investor Tetap Memburu Emas di Tengah Dinamika Ekonomi Global
Memasuki perdagangan Kamis, 12 Februari 2026, hingga pukul 06.44 WIB, harga emas di pasar spot kembali melemah 0,30% ke posisi US$5.063,69 per troy ons. Pelemahan ini muncul setelah pasar mencerna berbagai data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat.
Pertumbuhan lapangan kerja AS yang meningkat pada Januari serta turunnya tingkat pengangguran ke 4,3% memberi sinyal kuatnya pasar tenaga kerja. Kondisi ini membuka ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga acuannya sambil terus memantau arah inflasi.
Namun demikian, pelaku pasar menilai satu laporan ekonomi positif belum cukup untuk mengubah pandangan jangka panjang terhadap emas. Tai Wong, pedagang logam independen, menyatakan bahwa pembelian emas berbasis fundamental tetap solid karena investor masih memandang emas sebagai aset lindung nilai yang relevan.
Ketidakpastian Kebijakan Moneter Menopang Daya Tarik Emas
Harga emas sebelumnya sempat tertekan tajam pada akhir Januari dan awal Februari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pilihannya untuk posisi ketua bank sentral. Meski demikian, harga emas masih mencatatkan kenaikan lebih dari 17% sepanjang tahun ini, melanjutkan tren positif tahun lalu.
Jajak pendapat Reuters menunjukkan bahwa The Fed diperkirakan menahan suku bunga hingga masa jabatan Ketua Jerome Powell berakhir pada Mei, sebelum membuka peluang pemangkasan pada Juni. Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik membuat emas tetap diminati sebagai aset aman.
Kini, perhatian investor tertuju pada rilis data indeks harga konsumen AS yang dijadwalkan pada Jumat, yang diperkirakan akan kembali memengaruhi arah pergerakan harga emas global.
