Harga Emas Loyo Lagi, Gagal Memanfaatkan Kelemahan “Musuh Abadi”

Harga Emas Turun Setelah Dua Hari Menguat dan Gagal Manfaatkan Pelemahan Dolar AS

emas

Investor Tahan Aksi Jelang Rilis Data Tenaga Kerja dan Inflasi Amerika Serikat

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas dan perak kembali melemah setelah sempat menguat selama dua hari berturut-turut. Pelaku pasar memilih menahan posisi menjelang rilis sejumlah data penting Amerika Serikat yang akan memberi arah baru bagi kebijakan suku bunga.

Pada perdagangan Selasa (10/2/2026), harga emas dunia turun 0,82% ke level US$5.022,98 per troy ons. Penurunan ini memutus tren kenaikan yang sebelumnya berlangsung dua hari. Meski demikian, pada Rabu pagi (11/2/2026) hingga pukul 06.59 WIB, harga emas di pasar spot kembali naik tipis 0,35% ke posisi US$5.040,50 per troy ons.

Pasar mencatat penurunan lebih dari 1% pada sesi sebelumnya karena investor melakukan konsolidasi. Mereka menunggu data penggajian non-pertanian Januari yang akan dirilis Rabu serta data Indeks Harga Konsumen (CPI) Januari yang dijadwalkan terbit Jumat.

Pelemahan Dolar Gagal Angkat Harga Emas

Menariknya, pelemahan dolar AS tidak mampu mendongkrak harga emas secara signifikan. Dalam dua hari terakhir, indeks dolar turun hingga menyentuh level 96. Padahal, dolar kerap menjadi faktor penekan utama emas dan biasanya pelemahan mata uang tersebut mendorong harga logam mulia naik.

David Meger, direktur perdagangan logam di High Ridge Futures, menyatakan pasar sedang bergerak dalam fase konsolidasi menjelang rilis data ekonomi utama. Ia menilai pelaku pasar memilih berhati-hati sebelum mengambil posisi besar.

Jajak pendapat Reuters memperkirakan ekonomi AS menambah 70.000 pekerjaan pada Januari. Sementara itu, data penjualan ritel AS menunjukkan stagnasi pada Desember, sehingga memunculkan kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Topang Prospek Emas

Prospek ekonomi yang melambat memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga. Pelaku pasar memperkirakan dua kali pemotongan masing-masing 25 basis poin tahun ini. Kebijakan suku bunga yang lebih rendah biasanya mendukung emas karena menurunkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil.

Meger menambahkan bahwa ketegangan geopolitik dan peluang pelonggaran moneter masih memberi penopang bagi harga emas, terutama dengan level psikologis US$5.000 per troy ons yang tetap terjaga.

Di sisi lain, investor India meningkatkan pembelian ETF emas pada Januari seiring lonjakan harga, bahkan melampaui arus masuk dana ekuitas untuk pertama kalinya. Sementara itu, data London Bullion Market Association menunjukkan cadangan perak di brankas London turun 0,3% menjadi 27.729 metrik ton pada akhir Januari, sedangkan stok emas naik 0,6% menjadi 9.158 ton.

Previous Post Next Post